Sunday, 1 October 2017

Sekilas Kopi dan Akarpohon

Setelah agak lama vakum mengisi blog ini, sekarang ada pula kesempatan untuk menuangkan uneg-uneg. Akhir-akhir ini saya memang kurang produktif. Banyak kesibukan sebagai orang dewasa, padahal masih berjiwa kanak-kanak, tapi kenyataan harus dihadapi. Semakin berumur, ya musti mendewasa juga lah…

Sebelumnya ada postingan tentang saya yang sudah menjadi calon anggota Komunitas Menulis Akarpohon. Nah, jauh sebelum itu, saya menelusuri cerpen-cerpen yang sudah rampung di sebuah folder. Yang menarik perhatian saya adalah: rata-rata bertemakan kopi.

Kenapa, ya? Mungkin karena kopi ini minuman multisuasana dan sangat menginspirasi. Karena saya lebih sering menulis berdasarkan pengalaman, maka, ya, tidak jauh-jauh dari apa yang biasa saya lakukan sehari-hari. Misalnya, ketika mengetik postingan ini, saya sambil menyeruput-seruput kopi panas yang pahit-manisnya pas!

Ketika mengikuti Kelas Menulis Akarpohon yang ke-sekian, sang mentor  berkomentar, “Kok tulisanmu semua tentang kopi, sih?! Mulai minggu depan, buat tulisan yang nggak ada kopinya!”

Saya hanya cekikian saja. Saya mengakuinya, dan saya belum menjabarkan opini saya mengenai kenapa selalu kopi.

Usai menyelesaikan S1 dan menjadi mantan mahasiswa #ciye, saya merasa semakin parah dalam ngopi. Seperti minum obat, dua kali sehari, pagi dan sore, mengopi. Syukurnya ibu saya tidak melarang. Bahkan, keponakan yang masih berusia 9 bulan diberi mengecap kopi oleh ibu saya! Katanya supaya jantungnya sehat dan supaya tidak step. OMG.

Pagi dan sore mengopi. Kalau tidak mengopi pagi, bingung mau minum apa yang hangat. Kalau sore tidak mengopi, bingung juga meminum apa yang berasa-rasa. Jadilah mengopi pagi sore.

Dengan bertambahnya rutinitas ini, saya pun merasa semakin berumur. Merasa tua. Kopi hitam seringkali diidentikkan dengan orang tua; bapak-bapak, nenek-nenek, kakek-kakek. Tapi sekarang, kan, sudah tidak begitu. Banyak anak muda yang nongkrong di kedai kopi, minum racikan kopi mahal. Banyak juga kedai kopi waralaba, tempat nongkrong anak-anak muda hits. Perkembangan minuman hitam pahit nikmat ini sepertinya sudah menjadi salah satu standar penentuan anak hits.

Film Filosofi Kopi pun sepertinya menginspirasi banyak pebisnis untuk membuka kedai kopi.
Itu hanya opini ngawur saya saja. Sebelum menonton film itu, sejak dulu saya punya cita-cita untuk memiliki sebuah kedai kopi. Sebelum muncul St*rb*cks di  kota tempat tinggal saya, saya sudah punya bayangan meminum kopi dari gelas kertas, efek membaca buku. Sebelum menjamur kedai kopi tongkrongan anak hits di kota tempat tinggal saya, saya sudah punya gambaran akan rupa kedai kopi saya kelak. Dengan munculnya segala hal tersebut, saya merasa parno akan diduga ikut-ikutan. Padahal tidak.

Menulis dengan kopi sebagai titik pusat yang menarik banyak hal dalam cerita bukanlah bermaksud sok gaul atau apa. Saya merasa pas saja. Tahu sendiri, kan, peminum kopi, kopi yang kita minum, yang biasa kita seduh sendiri atau diseduhkan atau beli yang instan, rasanya tak pernah sama persis! Itu dia! Itulah yang membuat kopi begitu menginspirasi untuk saya.

Jadi, ceritanya saya mau curhat kalau saya dituduh hanya menggunakan kopi sebagai center point dalam cerita saya atas dasar kopi sedang hits. Tuduhan itu pun sudah terkontaminasi oleh persepsi saya pribadi, wkwk. Begitulah, intinya hendak curhat.

Kopi dalam keseharian saya memang bukan hal yang penting-penting amat. Hanya kalau sedang pusing mumet stress, minum kopi panas. Kalau sedang tidak enak hati, minum kopi panas. Kalau eneg selesai makan mie instan, minum kopi panas. Merasa tidak enak badan usai perjalanan jauh, minum kopi panas. Merasa butuh begadang untuk mengerjakan tugas yang sudah tenggat waktu, minum kopi panas. Kalau merasa kesal dan emosi tertahan, minum kopi panas. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Di rumah, yang aktif mengopi adalah ibu. Bapak hanya sesekali ketika ingin saja. Hal tersebut mencetuskan sebuah ide dalam otak saya yang kreatifnya kadang-kadang ini. Itu bisa jadi cerita. Kadang, gambaran laki-laki atau perempuan yang sedang minum kopi pun bisa mencetuskan sebuah ide kisah roman klise dalam benak saya. Itu pun bisa jadi cerita. Rasa kopi yang berubah-ubah mengikuti suasana hati saya ketika membuatnya pun bisa membuahkan sebuah cerita filosofis. Kerennya, filosofi kopi. Itu bukti bahwa kopi cukup murni menginspirasi saya karena banyaknya hal yang bisa tercetus sebagai sebuah ide cerita dalam benak saya.

Bukan karena kopi yang belakangan hits dan saya kemudian tertarik untuk mengkopikan semua cerpen yang saya buat. Tetapi karena, kata dospem saya: tidak perlu menarik banyak garis kalau hanya akan berujung pada satu titik, lebih baik memfokuskan diri pada satu titik di mana dari titik tersebut bisa ditarik banyak garis yang saling berkaitan (Mr. Fadjri). Seperti itulah kiranya. Dari satu titik yaitu kopi, saya berusaha melihat banyak hal dan mengaitkan banyak hal. Ibarat kopi ini sebagai teleskop. Sesuatu yang bisa membuat kita melihat hal lain dengan cara yang spesifik yang kemudian menghantarkan kita pada banyak penemuan yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Kopi kesukaan saya ada banyak. Tergantung pada suasana hati dan kebutuhan. Tapi belakangan ini saya sedang suka sekali dengan kopi hitam yang agak kental yang antara pahit-manisnya itu pas. Apalagi kalau diminum masih panas. Tapi apa daya, saya kalau minum kopi tidak bisa cepat, kecuali buru-buru. Jadi, mau tidak mau ya minum kopi dingin juga.

Kopi yang sudah mendingin itu juga nikmat. Hanya, kalau terlalu manis saya jadi kurang suka. Ibarat kekasih yang terlalu baik, seringkali diputusin #eh. Tapi saya merasa jahat kalau mencaci kopi kemanisan lalu tidak saya habiskan. Jadi, untuk menghargai si kopi (seolah kopi ini bernyawa), saya pun menyeruputnya pelan-pelan, mengulumnya, lalu meneguknya. Yah, sebagaimana minum kopi yang sesuai etika. Katanya minum kopi ada etikanya, dan kurang-lebih ya etikanya begitu.

Kadang juga nikmatnya kopi instan bikin doyan. Tapi, efek berumurnya saya, kopi instan itu rasanya terlalu ringan. Kalau sedang datang doyan minum kopi instan, ya, beli. Entah kenapa, kopi instan itu lebih cepat mendingin. Mungkin ada penjelasan ilmiahnya, ya?

Sayangnya, minum kopi itu harus mengukur diri. Sebagai orang yang mengidap maag kalau salah-salah makan dan salah waktu, akan bahaya sekali kalau minum kopi berlebihan ketika perut tidak diisi nasi. Yap, nasi.

Pernah suatu ketika, entah saya lupa makan atau tidak nafsu makan, saya semaput karena kebanyakan kafein. Mual, pusing, perut perih, dan lain-lain. Waktu itu mungkin saya salah kaprah kalau saya pusing butuh kopi, padahal pusing butuh makan nasi. Akhirnya tanpa melaporkan kesemaputan itu, saya pun memaksakan makan nasi. Hasilnya, perut pun begah karena ternyata maag. Selain itu, berangsur-angsur saya merasa baikan walau agak lama. Setelah tragedi itu, saya sempat trauma minum kopi. Sebagai tambahannya, kopi-kopi yang saya minum itu kopi pahit dan betulan pahit. Ingatan indera pengecap saya akan rasa pahit dan efek semaputnya itulah yang bikin saya trauma.

Dua-tiga hari saya sempat tidak menyentuh kopi. Pada hari berikutnya, saya merasa sangat kepingin ngopi. Mengabaikan rasa parno saya, dengan hati-hati saya pun menyeduh secangkir kopi. Saat menyeruputnya, perlahan rasa trauma saya memudar. Butuh beberapa cangkir kopi nikmat untuk menghilangkan trauma itu. Tak lupa, saya pun lebih awas terhadap pola makan dan jenis makanan yang saya konsumsi kalau sedang rajin ngopi. Akhirnya, saya pun kini sembuh dari trauma ngopi.

Cukup sekian “sekilas” curhatan kopi saya. Saya merasa Bahasa Indonesia ini sedikit kosakatanya karena saya sulit menemukan padanan kata untuk kata-kata yang sering muncul dalam postingan ini --‘’


06/08/17

Tuesday, 6 June 2017

yang sedang dikerjakan saat ini

Halo.
Akhirnya setelah sekian lamaaa (pembuka yang selalu)....
Saya sempat juga menjamah blog kesayangan ini, jurnal yang akan merekap sebagian momen hidup saya *tssah 

Setelah postingan terakhir yang membahas tentang kesan setelah PPL, postingan ini tentu saja akan membahas seperti apa yang tertera pada judul. Postingan singkat saja, asal bisa menjadi jejak dalam momen yang ingin saya ingat besok...

Jadi, pertengahan April kemarin akhirnya saya berhasil memulai KKN bersama 14 orang dari 3 fakultas berbeda. Menghimpun 14 anggota bukan hal mudah, kalau saya bilang, seperti mencari jodoh. Harus orang yang pas, yang bisa membuat kita nyaman, yang punya selera humor sama, yang pinya arah pikiran mirip, yang derajat kemiringan otaknya mirip, dan yang mau menerima kita apa adanya.... Setelah pencarian selama kurang lebih 2/3 bulan, akhirnya terhimpun 14 orang 'gila', dan saya bahagia pada akhirnya mengetahui mereka gila, karena itu artinya saya tidak sendirian ^^

KKN kamu berlangsung selama kurang dari 2 bulan. Dengan segala kendala yang diakibatkan oleh rasa malas dan masalah internal antar-anggota, akhirnya seluruh proker kita pun kelar. Setelah KKN, yang menjadi kesibukan adalah menyusun laporan KKN, di mana nyusunnya ini agak bikin kesel. Pertama, karena tidak ada format yang jelas bagaimana bentuk laporan, yang ke-dua adalah karena urusan administrasi yang agak ribet dari pihak kampus. Tetapi, it ended well, alhamdulillah...

Kelar berurusan dengan laporan KKN, saya suda tidak bisa mangkir lagi dari yang namanya SEKERIPSI. Yak! Akhirnya harus berhadapan dengan realita dan tidak ada tameng yang bisa digunakan untuk menghindar lagi. Skripsi di depan mata, yudisium di bulan depan. Teman-teman sudah mulai memanaskan jari dan otak untuk mengerjakan skripsi, bahkan sudah ada yang rampung bab 1-5, bahkan ada yang sudah siap ujian. Well, pelecut yang sangat melecut. Tidak ada alasan lagi untuk tidak mengerjakan skripsi.

Setelah bulan Januari kemarin menyelenggarakan Seminar Proposal tanpa menyelesaikan proposal, permintaan dospem, barulah bulan Juni saya berhasil 'melahirkan' si bayi proposal dan mengantarkannya ke dospem 2 untuk direvisi. Sangat melegakan. Setelah 5 bulan akhirnya si dia lahir juga :') Dan dimulai sejak itu, saya sudah bersiap untuk bolak-balik kampus, menanti dosen, dan mengerjakan revisi sekaligus bersiap membuat draft bab 4 dan 5. Sebentar kok, ngerjainnya... Malesnya aja sih yang lama :v Tapi harus digenjot, dipaksa, dan dimaksimalkan sampai otak beruap! Supaya bisa kejar #YudisiumJuli2017 dan #Wisuda2017 ^^ Aamiin!

Lantas, setelah nanti semuanya beres akan apa? Kita lihat saja nanti, selesaikan yang nyata di depan mata (y)

Jadi, yang sedang dikerjakan saat ini adalah menyelesaikan skripsi sampai beres dan tuntas, sampai #YudisiumJuli2017, sampai #Wisuda2017 :) dan sesekali ambil kerjaan yang bisa dikerjakan sambil skripsian, he he he...

Oh! Saat ini, sejak KKN, saya diterima sebagai kecambah di sebuah komunitas sastra; Akarpohon. Di sana saya akan menggembleng diri untuk bisa menuliskan cerpen (sekarang spesialis cerpen) yang layak terbit. Tapi tetap dengan prinsip "Penulis itu tidak mengikuti pasar, melainkan membuat pasar sendiri", karena setiap penulis adalah jiwa individu yang bebas. Saya tidak pernah serius bermimpi untuk masuk menjadi anggota komunitas disebabkan prinsip tersebut, tapi secara tidak sengaja, saya sudah hampir menjadi anggota sebuah komunitas. Saya belum tahu apakah saya akan betah untuk berproses bersama di bawah naungan komunitas atau tidak, yang jelas, saya sedang berusaha menjalaninya pelan-pelan sembari mencari tahu jawabannya. 
Apakah saya akan terus menulis? Ya, pasti,

Sayangnya, untuk saat-saat yang genting ini, saat-saat kejar #YudisiumJuli2017, sepertinya saya akan mohon vakum sementara dari kesibukan sebagai calon anggota komunitas. Karena masih mengikuti agenda kelas menulis, yang mengharuskan menulis 1 cerpen/minggu, maka saya lebih baik memilih salah satu; fokus skripsi atau tetap ikut kelas menulis. Dan saya memilih untuk fokus, karena saya bukan tipe orang yang bisa fokus pada 2 hal, kecuali salah satunya harus tidak total. Dalam artian, saya tidak ingin setengah-setengah. Dalam kata lain, saya kurang terampil untuk multitasking pada dua hal yang membutuhkan kinerja otak sama, karena kalau yang dibutuhkan adalah kinerja tubuh, maka saya masih mungkin bisa multitasking.

Sekian.
Sampai jumpa! Semoga sukses mengejar target!!!

Thursday, 6 April 2017

Renungan Mahasiswa Semester Akhir

Sekarang sudah hampir 4 tahun saya bergelut dengan dunia yang penuh pergolakan bernama kuliah. Dunia yang pelik karena sudah mulai terkontaminasi dengan urusan bermasyarakat. Dunia yang pelik karena dihadapkan dengan perpolitikan birokrasi yang mengaduk-aduk mahasiswa sebagai bahan percobaan berbagai kebijakan. Dunia yang membingungkan karena begitu banyak pilihan terhampar namun belum bisa memilih dengan tepat. Dan perkuliahan adalah dunia yang ribet level satu.

Sebelumnya saya pernah menulis bahwa saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang calon guru sejak usia SMP. Tapi apa yang terjadi adalah saya ini calon guru yangmengemban pendidikan di kampus FKIP (Fakultas KeGURUan dan Ilmu Pendidikan). Pada awal-awal semester saya tentu merasakan yang namanya sindrom salah jurusan (SSJ). SIndrom yang biasa dialami oleh mahasiswa baru yang ketika berhadapan dengan mata kuliah dan proses perkuliahan menemukan fakta bahwa ekspektasi tidak sesuai realita. Saya pun demikian.

Dalam bayangan saya, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini akan memberikan pelajaran-pelajaran Bahasa Inggris yang lebih sulit dari pelajaran-pelajaran ketika SMP ataupun SMA. Namun, yang saya dapati malah pelajaran Bahasa Inggris yang sangat dasar (baca: mudah sekali). Saya pun mulai terjangkiti gejala SSJ. Lalu berlanjut dengan mata kuliah umum, yakni KWN, Pancasila, KWU, Bahasa Indonesia, dan lain-lain (lupa dan malas mengingat). Mata kuliah seperti itu tentunya sangat membosankan dan saya tidak menemukan apa yang bisa saya dapat dari mata kuliah itu.

Tuesday, 8 November 2016

Jatuh Cinta Lagi, Tulus!

Beberapa minggu yang lalu saya menonton acara konser Tulus bertajuk Monokrom (sesuai dengan judul terbaru albumnya) di sebuah stasiun TV swasta. Saya suka Tulus sejak lagu pertamanya dipublikasikan, Sepatu. Bukan, Sewindu. Bukan, Teman Hidup. Ah, saya lupa yang mana. Yang jelas saya suka Tulus. Lirik lagunya yang puitis dan bikin meleleh karena maknanya manis, ditambah lagi dengan suara Tulus yang easy-listening banget.

Tak berapa lama, lagu-lagu Tulus bermunculan. Yang terbaru ini antara lain Pamit, Ruang Sendiri, kemudian sejak acara konser itu, saya langsung cari lagu lainnya yang mengena dalam ingatan, antara lain Cahaya, Langit Abu-Abu, dan Tukar Jiwa. Masing-masing lagu, seperti manusia, memiliki kisahnya masing-masing. Dan sekali lagi –lagi-lagi, saya jatuh cinta.

Seperti banyaknya hal yang bisa membuat kita jatuh cinta, banyak juga, bukan, hal yang membuat kita teringat. Salah satunya lagu. Dan tiga lagu Tulus yang baru saya gandrungi itu pun demikian. Kisah-kisahnya mengingatkan saya pada kisah seseorang. Dia mengalami semuanya, hehehe. Kepo? Mari, saya akan kupas satu per satu.

Eits… Warning! Tulisan ini bener-bener ringan dan bergenre teenlit. Cocok kalian baca kalau sedang suntuk dan sedang nggak butuh bacaan berat nan serius. :3

Friday, 7 October 2016

Apa Itu Ideologi? –Hanya Mitos, Bisa Jadi

Sebelum mulai dibaca, saya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini mungkin agak berat bagi pembaca yang suka membaca tulisan nyeleneh, tulisan ini mungkin agak gegabah karena saya tidak mengutip komentar ataupun opini ahli, dan tulisan ini mungkin akan menyindir beberapa pihak yang tentunya tidak saya maksudkan demikian. Seperti tulisan-tulisan saya lainnya, ini hanyalah sampah pemikiran yang harus dibuang karena otak saya terasa hampir penuh oleh hal-hal seperti ini.

Ideologi, seingat saya pada mata pelajara PKn dulu, adalah jalan/prinsip/landasan hidup. Lebih tepatnya saya sedang tidak ingin serius untuk tahu. Tapi ideologi ini adalah hal yang akhir-akhir ini nampaknya menjadi sesuatu yang serba-salah. Di satu sisi, saya membutuhkan ideologi untuk mempertegas diri saya dan sebagai tolak landasan cara berpikir. Kemudian, jika saya pikir-pikir lagi, bukan ideologi yang melandasi jalan pikiran saya, sebaliknya, jalan pikiran saya-lah yang menjadi asal-muasal ideologi yang saya sematkan pada diri saya, ternyata, semata untuk menamainya saja agar mudah disebut dan diingat.

Lagi, ideologi saat ini adalah hal yang membuat saya pergi dan lebih memilih untuk tidak berkumpul dalam organisasi. Ada suatu trauma tersendiri yang menyergap ketika membayangkan untuk memasuki sebuah organisasi. Dan ideologi inilah yang kemudian menjadi sekat-sekat pemisah di antara kami, yang dulu adalah satu yang berbaur.

Agak melankolis, tetapi juga ironis. Bagaimana satu hal yang sama bisa berakibat fatal. Ideologi ternyata seperti mata pedang, yang tidak melukai dan yang melukai. Saya merasakan bagian yang tajam, dan saya merasa terluka. Namun saya memilih untuk pergi dan menyembuhkan diri daripada bertahan diiris sampai kebal.

Tuesday, 6 September 2016

Pertanyaan: Kenapa menjadi guru?

Malam ini akhirnya sempat juga untuk nulis curhatan (hahaha). Setelah malam-malam lainnya tepar kecapekan karena masih dalam tahap beradaptasi dengan ritme kehidupan yang baru (ciye…). Jadi, ditemani dengan secangkir kopi manis yang sudah dingin, saya mau berbagi cerita untuk diri saya di masa depan.

Sedikit melenceng dari topik, saya mau curcol tentang secangkir kopi dengan rasa terburuk yang pernah saya buat dan yang pernah saya minum. Ceritanya berawal pada suatu Kamis sore. Saya dan teman sudah janjian untuk pergi menjadi ATK ba’da Ashar. Tapi dia pergi ke dokter hewan dulu nganter kucingnya yang sakit, dan nganter ibunya ke acara keluarga. Saya agak kesal dan gimana gitu menunggu kepastiannya (yah, namanya juga cewek, suka nyari-nyari kepastian). Akhirnya kepastiannya adalah ba’da Maghrib. Untuk meredam rasa kesal, saya memutuskan untuk berobat dengan secangkir kopi yang biasanya ampuh. Tapi eh ternyata… kopi sore itu, asli, nggak enak! Biasanya saya selalu kagum dengan kopi racikan sendiri, tapi sore itu… ugh, mungkin kalo orang sebut air got, begitu rasanya. Airnya gak keruan panas apa enggak. Kopinya gak keruan pait apa manis. Pokoknya bikin mual! Tapi nggak mungkin saya tega menyuruh orang lain minum kopi rasa air got itu. Saya paksa aja diri ini untuk nelen itu kopi dalam porsi besar. Benar-benar kopi terburuk yang pernah saya bikin dan yang saya minum! Sempat vakum minum kopi walau pengen juga, dan akhirnya malem ini ngopi lagi. *cheers*

Back to the topic!
Jadi, sebagai mahasiswa FKIP yang udah memasuki semester 7, saya pun harus mengambil mata kuliah PPL (Program Praktek Lapangan). Alhamdulillah, saya dapet di SMA (katanya SMP jauh lebih bengal, dan menurut cerita teman-teman yang dapet di SMP sih bener). Bukan sekolah favorit, bukan sekolah yang pernah terlintas dalam pikiran saya untuk ditempatkan di sana. Tapi, yah, Tuhan tau mana yang terbaik untuk hamba-Nya.

Saturday, 12 March 2016

Menulis VS Mengetik

Di zaman yang sangat canggih dan modern ini, laptop atau tablet atau bahkan ponsel pintar sudah menjadi barang awam yang dibawa dan digunakan untuk membuat sekaligus menyimpan dokumen. Sebuah dokumen yang kita ketik. Jarang sudah kita lihat buku catatan dan pulpen bersanding mendampingi orang-orang. Orang tentu akan banyak memilih mengetik ketimbang menulis. Tapi jumlah yang memilih sebaliknya pun tidak bisa diremehkan.

Sejak jaman saya masih anak TK ingusan, saya sudah cukup akrab dengan yang namanya mesin tik (re: mesin ketik). Dulu saya yang tinggal bersama kakek-nenek biasanya main di kantor. Di sana tentu ada mesin tik yang senantiasa menjadi mainan saya. Saya suka bunyi yang dihasilkan mesin tik ketika kita mengetik. Saya juga suka menggeser pita karbon, menggeser kertas ketika memulai paragraph baru, dan sensasi mensejajarkant jarak tiap baris. Menggunakan mesin tik di kala mengeja nama pun masih susah sangatlah menyenangkan! Sejak dini saya sudah suka mengetik.