Posts

Panggung Sandiwara

Kata orang, " hidup ini adalah panggung sandiwara" . Kita hidup dengan skenario yang telah dituliskan oleh Sang Pencipta. Kita menjalani hari-hari kita sesuai dengan apa yang telah diatur. Namun tentu saja tak sepenuhnya hidup kita bergantung pada skenario itu, ada yang bilang "hidup adalah pilihan" . Jelas, dua hal itu benar, kan? Tapi saya mau menelisikk tentang kata orang yang pertama aja, muehehe. Analogi dari "hidup ini adalah panggung sandiwara": kita adalah aktor atau aktris yang mampu memerankan beberapa tokoh dalam latar tempat dan waktu yang berbeda-beda. Betul, kan? Kadang saya sering dengan sadar maupun tidak sadar ternyata sedang berperan. Di satu tempat saya menjadi seorang yang lain, di tempat lain saya menjadi orang lain lagi, begitu seterusnya. Bagaimana saya memainkan peran saya adalah tergantung dari siapa saja orang di sekitar saja. Hal itu mudah pada awalnya, tapi kemudian menjadi sulit ketika saya bersama dua orang berbeda di mana...

Buku yang Tertutup

Buku yang tertutup. Buku yang sama sekali tidak menarik sampulnya. Buku yang tidak pernah begitu saja terbuka. Buku yang isinya tak bisa diduga asal-asalan. Buku yang hanya mengungkapkan ceritanya ketika dibuka, bukan terbuka. Buku yang tertutup hanya akan membuka dirinya bagi siapa yang terarik untuk membacanya. Buku yang tertutup tak pernah bisa asal dibuka, hanya orang yang benar-benar ingin tahu yang akan membuka dan mengetahui rahasia apa saja yang ada di dalamnya. Buku yang terbuka tak pernah mengumbar rahasianya, hanya kepada orang yang ingin membacanya. Buku yang tertutup sama sekali tak pernah menarik bagi sebagian orang. Terlebih pada sampulnya pun tak ada yang menggelitik mata untuk membukanya. Buku yang tertutup hanya akan memancarkan pesona tersendiri bagi orang tertentu yang akan membacanya. Buku yang terbuka tidak dengan mudah membuang-buang kepercayaannya pada orang lain untuk membacanya. Buku yang tertutup memang tak mudah dipahami karena hanya segelintir yang te...

As Sweet As Candy!

Teman. Satu kata yang mungkin banyak macam definisinya. Ada teman yang baik, kurang baik, tidak baik. Teman pun banyak sekali macamnya. Teman itu (menurut saya) adalah pribadi seseorang yang cocok atau tidak dengan pribadi kita sendiri. Tingkat kecocokan pribadi kita dengan seseorang menunjukkan sebagaimana dekat kita dengan seseorang yang kita sebut dengan teman. Teman gampang dicari, begitu kata banyak orang. Tapi menurut saya, tidak sembarang kenal orang bisa kita jadikan seorang teman. Teman itu lebih daripada sekedar mengenal seseorang. Teman itu adalah seseorang yang bisa kita andalkan, percaya, dan membuat kita nyaman. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kecocokan, yaitu antara lain tiga hal tersebut merupakan indikasi dari status teman itu sendiri. Semakin cocok kita dengan seseorang, maka semakin berarti seorang teman bagi kita. Terlihat sepele mungkin, tapi menurut saya itu cukup besar artinya. Artinya, tidak sembarang orang bisa menjadi teman. Teman. Kadang ada tema...

Diary

Siapa yang nggak pernah nulis diary semasa SD? Umm... berarti masa SDnya kurang greget. Dulu saya nulis diary, meskipun nggak rutin tapi tetep ditulisin. Makin bertumbuh, nulis diary pun makin sepenting dan sesempatnya aja. Misalnya cuma nulis hal-hal yang bener-bener pengen diinget aja ato nulis hal-hal yang emang penting banget dalam perjalanan hidup *cieh Sesuatu yang merubah kebiasaan nulis diary saya itu salah satunya ngeblog. Iya, ngeblog atau blogging. Di jaman yang serba teknologi, serba sosmed, serba update ini rasanya memang lebih kece kalo ngeblog (re: nulis diarynya pindah ke blog). Saya sempat terjebak dalam ngeblog ini. Malu juga kalo baca-baca postingan lama. Vulgar sekali rasanya mengumbar-umbar privasi di sosmed -_- Kemarin adalah waktu di mana saya sadar bahwa kebiasaan lama itu harus dimunculkan kembali, atau lebih tepatnya dibiasakan lagi. Kenapa? Karena hidup ini cuma sekali dan setiap momen berarti itu terjadi cuma sekali juga. Ada saatnya satu momen tertentu ...

finding back my passion!!!!

Hiyaaa....dari judul sudah terlihat sekali bahwa saya mengalami lost contact dengan passion saya. Sebabnya? Jangan paksa saya untuk menjawabnya karena saya pun masih berusaha mengetahui jawabannya. Hiks. Sebenarnya dari beberapa waktu yang lalu udah coba-coba buat nulis nge-update blog ini, tapi entah kenapa otak saya sepertinya ngambek untuk diajakin nulis postingan. Ada apakah gerangan? Merasa sedih sekali... Oh iyaaaa.... berhubung musim liburan udah dimulai sejak sebelum Ramadhan jadi Ramadhannya bisa santai dan difokusik ke ibadah o:) Selain itu, Ramadhan juga dibikin greget sama kegiatan ngecekin nilai UAS di web kampus. Ada beberapa yang mencapai nilai maksimal, ada pula yang mencapai nilai alakadarnya. Well, kalo ditinjau balik ke awal perkuliahan semester 2 kemaren sih yang dapet nilai alakadarnya tuh emang mata kuliah yang nggak terlalu menarik buat saya, misalnya aja Pendidikan Pancasila. Yak, saya memang bukan orang yang terlalu nasionalis, boleh dicap sebagai orang y...

Sepucuk Surat

Duduk sendirian memandangi senja. Tiba-tiba terlintas wajahmu dalam benakku. Apa kabar kau sekarang? Aku mengambil secarik kertas dan mulai menulis. Pada suatu senja yang memikat, aku duduk terspesona di sebuah beranda yang menghadap ke arah lautan. Sinar matahari senja yang menyilaukan perlahan meredup seiring dengan turunnya matahari. Aku hanya duduk dan membiarkan teh dalam cangkir mendingin hingga tak nikmat lagi untuk disesap. Aku  mengingat apa yang menyatukan kita, dulu. Ya, pada suatu senja yang memikat. Kita bertemu. Kau ingat? Kau, dengan sebuah kamera yang menggantung di lehermu. Aku, dengan headphone yang menutupi kedua telinga. Kita tak sengaja bersisian ketika kau hendak membidik, mengabadikan senja, dan aku yang ingin mengintip senja dari sudut terbaik yang bisa ku dapat.

Daddy and Daughter

Cerita ini kisah kemarin. Ketika senja tak terasa indah, ketika hujan terasa menyedihkan. Kemarin bukan hari yang begitu luar biasa, sebaliknya, kemarin adalah hari yang cukup mengenaskan. Dimulai dari terlambat masuk kelas Grammar II (syukurnya ibu dosen masih membolehkan masuk, meski tatapannya menyiratkan ketidak-sukaan), kemudian 'terpaksa' mentraktir teman (padahal duit udah pas-pasan untuk beli bensin di perjalanan pulang kampus), sampai akhirnya kehujanan. Bukan masalah sial atau tidaknya kemarin, tapi ada satu kisah kecil yang cukup menarik di mata saya ketika hujan kemarin. Hujan yang turun ketika senja berakhir dan malam baru saja dimulai. Kisah itu betul-betul mengusik hati ketika saya menyaksikannya. Hujan yang kemarin turun itu begitu tiba-tiba. Sebelum sampai pada lapu merah ke-dua dari kampus hujan itu tiba-tiba menetes dan membasahi sedikit kemeja saya yang sedang melaju dengan sepeda motor. Sedikit terkejut, saya segera menepi dan berteduh d...