Posts

Liburan Berkelana

Liburan semester anak sekolah merupakan waktu liburan juga untuk tutor bimbel, which is me!  Setiap waktu liburan sebenarnya agak bikin stres karena tiba-tiba tidak ada jadwal harian untuk bekerja, jadi untuk menyiasatinya, saya tetap pergi ke kantor satunya untuk menjaga ritme harian—syukurnya bekerja di lebih dari satu tempat. Hal berikutnya yang saya syukuri adalah bahwa liburan kali ini tidak benar-benar libur karena di kantor ada kegiatan sehingga pada pekan pertama libur bimbel tidak menganggur. Kesibukan kadang sangat menyenangkan untuk menyibak isi pikiran yang penuh dengan hal tak penting! Sibuk-sibuk untuk mengisi pekan pertama liburan, yey! Pada pekan kedua sudah lebih santai, atmosfir liburannya semakin terasa, diikuti dengan rasa enggan untuk kembali bekerja, tapi ritme harian harus terus diusahakan untuk menjaga kewarasan. Akhirnya, untuk tetap menyibukkan diri, mulailah diri ini menghubungi kawan-kawan yang saat kerja tak sempat ditemui.  Walau jiwa introvert in...

Usia 30+ harusnya gimana?

Image
Pagi ini terbangun dengan sebuah pemikiran yang tiba-tiba reflektif dan sedikit perasaan yang aneh bahwa pada usia segini, seharusnya aku tidak seperti ini... Jadi, bagaimana seharusnya kehidupan wanita usia 30+ ini berjalan? Kalau berkaca pada kehidupan teman-teman sebaya, 'normalnya', usia 30+ sudah mandiri secara mental, finansial, dan lain-lain. Tak mengherankan kalau ada yang sudah menyelesaikan pendidikan S2, sudah menikah, berkeluarga, dan berbisnis. Pokoknya hal-hal yang dewasa. Tapi, normal itu relatif, kan? Tak aneh juga kalau usia 30+ masih berusaha untuk mencapai kestabilan, untuk berusaha sekuat tenaga mewujudkan mimpi, pelan-pelan menata hidup, pelan-pelan belajar menjadi manusia, pelan-pelan berjalan keluar dari gua, pelan-pelan mengerti, pelan-pelan menerima, pelan-pelan ... Bukankah mencapai usia 30 tahun itu sendiri sudah sebuah pencapaian? Tidak harus sudah menikah. Tidak harus sudah berkeluarga. Tidak harus sudah punya tabungan 2-digit. Tidak harus sudah pun...

hari-hari di 2025 edisi pengembangan diri

 Mari mengenang dan merefleksi hari-hari pada 2025 karena tahun tersebut baru saja berlalu. Supaya tidak campur aduk, tulisan kali ini edisi pengembangan diri yang akan berfokus pada bagaimana saya merefleksi diri. Awal tahun lalu rasanya masih cukup labil, masih merasa perlu banyak dukungan dari teman-teman supaya bisa lebih stabil dan berdiri sendiri. Seiring waktu, dengan dikelilingi orang-orang baik dan luar biasa open-minded , saya pun mulai merasa nyaman untuk menjadi diri sendiri, mulai berani semakin membuka diri dan mengutarakan pendapat. Lambat laun, semua menjadi terasa lebih mudah dan nyaman, tak perlu lagi terlalu sering berpura-pura untuk menjadi yang terlihat baik di mata orang. Pada akhirnya, yang tak suka akan terus mencari kekurangan kita, kan? Belajar menjadi guru BIPA, mengajar bahasa tapi terbalik; biasanya mengajar Bahasa Inggris, kali ini mengajar Bahasa Indonesia untuk pemelajar asing. Dari situ, belajar untuk bisa berinteraksi dengan murid yang 'baru', ...

suara dan udara pagi

sudah berminggu-minggu, bahkan mungkin sudah terhitung bulan, kebiasaan tidur lagi setelah subuh ini berlangsung— Mula-mula selalu jadi beban dalam hati, kenapa sih harus tidur lagi, lalu nanti pasti bangunnha kesiangan ... Tetapi kemudian memutuskan untuk berdamai dengan diri dan menerima bahwa itu memang ingin dan butuhnya tubuh. Sebab, tidur pun mulai dinormalisasi lewat dari pukul 12. Tak heran, kan, kalau tubuh yang butuh tidur 8 jam ini memang butuh digenapkan tidurnya? Lambat laun... jam harian untuk memulai hari pun bergeser. Pengingat di ponsel untuk melakukan workout  pun bergeser—semula 6.30 menjadi 7.30, yang mana itupun ikut masuk kategori 'kepagian'. Semula 8.30 itu adalah paling siang, lalu bergeser ke 9.00, bahkan 9.30 pun wajar untuk baru bersiap menjerang air untuk menyeduh kopi. Di penghujung tahun ini, rasanya banyak sekali yang ingin dituliskan, banyak sekali hal yang terjadi, pekerjaan, perasaan, pertimbangan, dan sudah pasti pikiran. Diikuti pula oleh har...

(filosofi) jalan sore 🍃

Semenjak memaksa diri untuk rutin olahraga di rumah, walau hanya 10 menit, rasanya kurang afdol kalau rest day  benar-benar ngga ngapa-ngapain. Kadang kalau masih badan ini mau bergerak terus, maka jalan sore adalah solusinya. Dan sejak kerjaan tidak begitu padat, pulang bisa lebih awal, pun matahari masih ramah menggantung di Barat, jalan sore pun terlaksana. Beberapa sore riset trek mana yang paling nyaman untuk jalan sore, hingga ada satu kesimpulan yang sangat nyaman bagi seorang introvert seperti diri ini. Berikut penjabarannya: (1) trotoar di sisi jalan raya; berjalan dengan arah berlawanan dengan arus kendaraan, konon lebih aman dan mengurangi resiko kecelakaan tertabrak dari belakang. Memang benar, tapi lumayan rawan kelilipan. Kalau kendaraan sedang ramai, yah, harus sangat waspada juga, terutama saat mau menyebrang dan berjalan pulang. Kalau butuh mendengar suara-suara kehidupan, pas banget jalan dengan trek trotoar. (2) jalanan aspal dalam kompleks; di luar dugaan, terny...

teaching helps me out--literal meaning

Sunday was awful because I felt like almost fully drown into the dark space inside me; all negativity and sorrow were all around me, it was really depressing that I couldn't afford doing anything--only laying on my bed trying hard to get out of the foggy mind. Dulu, tiap hari libur, perasaan stres seringkali makin menjadi-jadi, hampir depresi rasanya. Ingin keluar, tapi ngga ada yang ajak. Diam di rumah, sumuk banget. Akhirnya terjebak antara keduanya, biasanya berujung pada tidak ke mana-mana dan bergumul dengan perasaan yang menyesakkan dada. Entah kenapa, ya... Suatu hari saya pernah membaca istilahnya, tapi saya lupa. Hal itu terjadi lagi pada hari Minggu pekan ini. Rasanya sungguh sangat menyiksa dan menyebalkan karena rasanya tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah keadaan (padahal bisa saja, kalau mau mengusahakan). Kali itu saya sedang kalah oleh diri sendiri, rupanya energi negatif dalam diri ini lebih besar dari keinginan untuk melawan. Sungguh mujur saya memutuskan m...

Hello, Thirty!

 It's almost a month ago. Akhirnya usai sudah masa Saturn Return , akhirnya masuk kepala-3, akhirnya... oh, begini rasanya jadi mbak-mbak tiga-puluh tahun... Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, perasaan risau, gelisah, sungkan, canggung, dan lain-lain kali ini tidak hadir. Yang hadir adalah pemikiran-pemikiran tentang pencapaian hidup yang kalau dipikirkan, lho, apa aja, ya? Trus, akan apa, nih, ke depannya? Lalu, ya, sudah, hidup terus berlanjut pada keesokan hari dengan rutinitas yang masih serupa, dengan hal-hal kecil bertebaran yang patut diingat dan disyukuri. Pokoknya, memasuki usia baru kali ini tidak segelisah sebelum-sebelumnya. Rasanya biasa saja, tapi ada perasaan bahwa tanggung jawab dan hal-hal lain bertambah. Makin banyak umurnya, makin banyak juga sepertinya ekspektasi orang-orang, ya? Ah, nggak usah dihitung! Hal-hal yang berasal dari luar jangan terlalu dibawa pikiran, toh, isi pikiran sendiri pun sudah banyak membludak, ya! Instead of feeling overwhelmed , saya ...