Posts

This.

Kita tidak bisa mengharapkan ada orang yang akan dengan benar memahami isi tulisan atau karya kita. Sebuah kesalahpahaman adalah hal biasa yang menjadi santapan rutin seorang penulis. Entah pembaca itu orang asing atau orang terdekat sekali pun, semua harus diterima. Terkadang, meski kita sudah memaparkan yang sebenarnya, tetap saja, mengubah persepsi dan perspektif orang lain itu sulit. Apa yang mereka alami, lalui, baca, dengar, rasa, dan lihat tak pernah bisa selalu sama dengan kita. Jangan salahkan persepsi dan perspektif orang lain. Hargai saja, seperti yang kita harapkan pada orang lain. Hidup tak selalu berjalan mulus, kan? Semua hobi atau profesi selalu ada cobaannya. Menjadi penulis, salah satu cobaannya mungkin ini: timbulnya kesalahpahaman atas kesalah-tafsiran dari seorang pembaca. Baiklah, di negara demokrasi ini saya tentu harus menghargai pendapat, persepsi, dan perspektif orang lain. Cepat atau lambat, atau tak akan pernah untuk selamanya, mereka akan merubah pers...

Welcome to Semester 4!

Welcome to semester 4!!! Nggak kerasa kuliah udah nyampe di semester 4 aja. Semester 1 dan 2 hanya pemanasan, mulai semester 3 semua mulai menjadi lebih serius. Mulai dari mata kuliah dan materinya sampe jenis dosen yang mengajar. Di semester 3 kemaren bener-bener chaos ! Kewalahan sama ritme yang mulai nggak santai, semua mengejar kita untuk siap. Tugas, latihan, kerja kelompok, praktek, hingga akhirnya sudah akrab dengan tenggat waktu. Fyuh... Alhamdulillah hasilnya cukup untuk bikin lega , tapi belum terlalu memuaskan. Sekarang ketemu juga sama semester 4. Atmosfirnya beda, aura dosennya beda, mata kuliahnya agak gimana gitu...menarik sekaligus menantang, bahan kuliahnya hampir 1 rim wkwk.. Semua baru awal. Semester 4 ini baru awal. Di semester 4 semuanya mulai serius, kamu kapan seriusnya? *eh . Berkenaan dengan mata kuliah dan bahan kuliah, hampir sebagian besar adalah bacaan! Read, read, read. Read a lot on this semester!!! Mending kalo bacaannya teks Bahasa Indonesia, ini...

SOMETHING THAT WE ALL NEED

Pernah merasa sendirian dalam suatu keramaian? Atau merasa begitu merana dengan kesendirian? Atau merasa sulit berbaur dengan lingkungan sekitar? Atau keadaan selalu merasa rendah diri? Atau merasa tidak bisa mengatasi sebuah masalah? Pasti pernah. Saya pun demikian. Apa yang sebenarnya kita butuhkan untuk mengatasi hal-hal seperti itu, ya? Pernah satu kali, saya mendapati diri saya sedang berhadapan dengan sebuah masalah yang menurut saya adalah masalah yang sangat serius sejauh kehidupan saya sebagai mahasiswi. Bukan persoalan tugas atau ujian, melainkan hal yang lebih krusial daripada itu. Saat itu saya benar-benar merasa hanya bergantung pada sebuah motivasi seorang itu. Ibarat untaian tali yang terputus, untaian tersebut mampu bertahan berkat hanya sebuah tali yang belum putus. Saya benar-benar tak punya harapan, tapi ibu saya mempunyainya dan saya tak mau mengecewakannya, maka dengan berbekal harapan ibu saya pun terus berjuang.

2015

Sudah lama rasanya tidak mengisi jurnal online ini. Terakhir 2014 dan sekarang sudah 2015 lebih 1 bulan. Entah mau menulis apa di jurnal, belum ada waktu atau belum tau apa yang pantas ditulis. Sejauh ini hidup berjalan biasa saja. Banyak cerita tetapi sulit ditulis. Sudah terlalu nyaman berjalan di jalan biasa, mungkin sudah saatnya mencoba tikungan asing dan berpetualang. Memasuki semester 4 dan usia kepala dua (ehm), semua harus melebihi batas dan menciptakan batas baru dan melebihi batas itu dan begitu terus. Resolusi yang mengendap pun tak bisa dilupakan begitu saja, tetapi rasanya sudah lupa dari mana memulai lagi. Sebuah petualangan kecil dan singkat begitu membekas karena seorang kawan, sebenarnya lebih dari kawan, namun juga kakak dan lebih dari itu. Apakah hidup ini sesederhana petulangan kecil dan singkat? Sejauh ini, jika direnungi lagi ternyata sudah jauh berjalan. Kadang melangkah maju, diam, atau ke belakang. Ada satu titip di mana semua begitu melelahkan sampai ak...

Catatan Kecil

Aloha! Beberapa waktu terakhir saya terlalu menyibukkan diri dengan urusan kuliah dan lain-lain sehingga tak sempat menjamah laman blog ini. Akhirnya pada malam Senin yang lumayan capek ini bisa juga sempat tengok blog ini. Banyak sekali cerita tentang kehidupan yang terlihat memang goes well :) Alhamdulillah. Sempat ikut workshop TOEFL diselenggarakan oleh HMPS jurusan minggu ini. Pada hari pertama ada sebuah kalimat yang nyangkut di kepala: buatlah skenario bagaimana hidupmu ingin seperti apa, jadikan kamu sebagai tokoh utamanya, dan perankanlah peranmu dengan baik. Dengan sutradaranya adalah Tuhan, dan astradanya orangtua . Bukan karena merasa apa-apa oleh kalimat itu sehingga nyangkut di kepala, melainkan karena saya juga meyakini hal yang sama. Bukankah hidup ini dipermudah oleh Tuhan jika kita mau untuk terus berbaik sangka pada-Nya? Maka apa salahnya kita jika berbaik sangka? ;) Berkaitan denga kalimat itu pula, sering saya memutar sebuah scene dalam kepala saya tentang ...

Pulang

aku ingin pulang segala urusan ini begitu menjemukan ingin ku tuk pulang menyandarkan segala letih ini pada pundakmu hingga terpejam mata ini sejenak saja ingin ku tuk pulang membasuh peluh ini dengan sejuknya senyum yang menghias wajahmu ibu.

Deluna #1

Hari itu akhirnya hujan turun juga setelah menanti berbulan-bulan. Hujan yang datang bersama gemuruh langit dan awan mendung yang pekat. Hujan yang mengguyur seperti tumpah begitu saja. Si angin pun tak ingin ketinggalan meramaikan hari itu. Tak ingin mengambil resiko ataupun berlagak sok berani, orang-orang mulai menepi dan berteduh di pelataran ruko-ruko pinggir jalan. Deluna termasuk salah satunya. Ketika sedang asyik berjalan sambil mendengarkan lagu, hujan tiba-tiba menderas dan ia bergegas mencari tempat berteduh. Bersama dengan para peneduh yang lain, Deluna berdiri. Headset nya dilepas karena ia ingin menikmati suara hujan yang menderu seperti persembahan melodi dari alam. Sembari merapatkan jaketnya, Deluna diam-diam menyukai udara dingin yang mengelimuti hari itu.