Posts

Day 106 of 365

Sebuah catatan tentang alur yang pada akhirnya bisa saya kenali dan identifikasi. Keadaan stres, kalau kata seorang kawan sih 'depresi minor', yang kerap berulang secara berkala, kadang teratur, kadang juga tidak. Suka-suka aja. Saya curiga, sih, efek PMS. Tapi, tidak selalu karena PMS. Kira-kira begini:  the shadow Sebuah fase akan berulang. Tapi, kalau bisa dicegah, kenapa tidak? Fase stress yang kadang tidak jelas awal mulanya memang kerap berulang. Kadang tidak tiba-tiba, karena pasti akan muncul tanda-tandanya. Seperti mendung pekat yang muncul sebelum hujan jatuh, begitu pula beberapa gejala. Kali ini yang bisa saya deskripsikan adalah the shadow . Yah, bayangkan saja sebentuk bayangan yang menucul ketika kalian berjalan di bawah cahaya. Bayangan itu akan terus mengikuti kalian sampai sumber cahaya menghilang dan hanya ada kepekatan saja. Bayangan yang biasa datang berupa samar-samar pemikiran berlebih yang berujung pada energi negatif yang cukup untuk merundung s...

Day 99 of 365

 Positivity Challenge Terhitung sudah sepekan berjalan.  Saya menerima sebuah tantangan dari seorang kawan yang saya sebut sebagai konsultan. Konsultasn psikis, hehe. Beberapa waktu belakangan, saya banyak bercerita tentang hal-hal kelam yang saya (rasa) alami. Di luar dugaan, ternyata orang seperti dialah yang saya butuhkan.  Dengan senang hati, ia bilang akan selalu siap mendengarkan cerita saya dan akan selalu berusaha ada saat saya dirundung suasana gelap yang tidak pernah membuat saya nyaman. Pertama kali, tentu saya awas dengan keterbukannya itu. Namun, saya salah.  Kali kedua pun tiba, saya yang coba menghubunginya terlebih dahulu. Memulai pembahasan dengan basa-basi singkat, lalu langsung tembak ke inti permasalahan. Tahapannya, kalau saya ingat-ingat, sih... dia merasa khawatir karena cuitan saya nampak terlalu bermuatan energi negatif. Ia pun memberi nasihat dan menyarankan saya untuk mengkonsumsi obat penenang. Kemudian, kali kedua... saya mengadu padanya ...

Day 86 of 365

Perjalanan berdamai dengan kesepian--perjalanan berbincang dengan kesendirian Not the very best day in a week. I always have a kind of love-hate relationship with Sunday. Saya menyebutnya dengan ‘Sindrom Hari Minggu’, sementara bapak Viktor Frankl memiliki istilah sendiri yang tidak mudah saya ingat sehingga tentu lebih mudah menggunakan istilah yang saya buat sendiri. Gejalanya sama. Intinya, ini sejenis depresi yang dialami oleh orang yang terbiasa bekerja sepanjang pekan, lalu tiba-tiba tidak punya banyak ‘pekerjaan’ di hari Minggu yang membuat orang seperti saya ini merasakan kehampaan. Maka, hari Minggu bukan menjadi hari yang paling saya tunggu jika mengingat saya akan gabut setengah mati. Namun, bisa juga menjadi hari yang saya tunggu-tunggu ketika saya punya agenda seru yang akan dilakukan pada hari Minggu. Setelah lama struggling melewati hari Minggu yang membosankan dan sering membuat saya sakit kepala parah, yang berlanjut hingga keesokan harinya, akhirnya saya menemuka...

Day 79 of 365

Hari Minggu pagi, dengan segala kerumitan isi kepala dan kompleksitas perasaan... Setelah sekian lama, setelah saya pikir hal  itu sudah hilang, nyatanya masih di sana. Apa itu? Ah, sesuatu hal yang cukup menggangggu hingga saat ini. Beberapa waktu lalu saya merasa saya sudah memaafkannya, tapi lama-lama ternyata belum. Sebelum membahas itu lebih lanjut, kadang-kadang saya merasa sedang di fase kesal dengan orang dewasa. Meski sebentar lagi nyatanya saya beranjak dewasa, saya masih merasa jauh dari sana. Begini… tak sedikit saya menghadapi bahwa semakin dewasa… sebuah pasangan, alias tua… yang dalam kehidupan berumahtangga-nya semakin menyebalkan alias menggemaskan alias tidak lucu lagi pada saat harus melakukan gencatan komunikasi dengan alasan menghindari keributan. Tapi, bukannya menghindari keributan, malah yang ada adalah desas-desus di belakang, yang mana hal itu lebih menyebalkan lagi. Untuk lebih jelasnya, ini adalah yang saya amati dari kedua orangtua saya. H...

Day 20 of 365

"...  an introvert doesnt like a sudden change."  Benar demikian. Entah kenapa, khususnya masalah jadwal, kalau tiba-tiba berubah, it could ruin my day . Kemarin hal itu terjadi. Rasanya gemas sekali. Masalahnya, ada sedikit efek domino yang terjadi akibat hal itu. Saya pun jadi sulit fokus karena masih memikirkan itu. Lalu, saya coba untuk segera selesai dengan pemikiran-pemikiran itu. Bagaimana? #writheraphy jawabannya. Biasanya kalau sedang merasa gundah gulana atau hal serupa, saya kadang akan memaksa diri untuk menulis. Menuliskan yang saya rasakan sejujur-jujurnya. Mula-mula sih sulit untuk sejujur-jujurnya, namun lama-lama terbiasa juga, dan dengan itu saya jadi bisa menerima diri saya, which is a good thing to happen . Entah bagaimana, frasa: mulailah dari diri sendiri, itu melekat dan sekalinya bekerja, efeknya bagus pada diri saya. Kasus pertama bisa dibilang ketika saya berusaha memaafkan diri saya yang kecewa berat pada ayah saya. Saat itu saya marah sekali. Tapi ...

Day 9 of 365

Kenapa, ya, rasanya hampir setiap hari di rumah tuh butuh ruang sendiri? Padahal nggak pernah terlalu disuruh ini-itu, nggak pernah dituntut untuk ini-itu… Dibebasin aja. Tapi kenapa selalu ada perasaan untuk bilang, “Let me alone!” Aneh, sih. Seharusnya nggak begitu. Untuk saat ini, untuk menemukan jawabannya, sepertinya yang bisa saya lakukan adalah menerima perasaan itu pelan-pelan, menjabat tangan, lalu bercengkrama sebentar. Bagaimana perasaan itu? Setiap bangun pagi, otak rasanya langsung ricuh, riuh, ramai, padahal ingin sekali merasakan calm state . Maksudnya, ingin dia tenang sejenak untuk mengatur apa-apa saja yang akan dilakukan hari itu, dan memutuskan dengan hati-hati mana yang prioritas dan mana yang rutinitas. Nah, seringnya, bahkan ketika tanpa ada yang menginstruksikan apapun malah sudah mulai stress duluan, sudah merasa disuruh-suruh. Mungkin otak saya tantrum? Belum diperintahkan apapun, tapi sudah heboh duluan. Hasilnya, pagi-pagi malah susah fokus. Alih-ali...

Day 3 of 365

Hari kemarin, hari pertama kembali bekerja pada tahun yang baru... jadwal masih belum kembali padat seperti semula, bersyukur karena dengan begitu masih diberi kesempatan untuk 'pemanasan' sebelum kembali ke rutinitas yang padat gambreng.  Saya bingung pada diri sendiri, sering kali merasa loading  terhadap perubahan, dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, di saat saya butuh cepat. Tapi syukurnya di hari kemarin semua berjalan perlahan dan tidak menjadi stressor bagi saya, he he. Beberapa siswa belum kembali aktif sebagaimana normalnya. Sedihnya, salah satu siswa saya terkena demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit. Kemarin semua terasa 'normal' karena saya bisa memulai hari dengan perlahan dan beban pekerjaan yang masih ringan tentu tidak menyebabkan stres, kan. Agak kaget juga karena jam bekerja lebih singkat dari yang saya perkirakan, tapi saya berusaha untuk tidak panik menanggapi hal itu. Saya berusaha berpikir untuk tetap tenang dan merancang renca...