Posts

Day 178 of 365

Summer Event #1 Sepekan turut berpartisipasi dalam sebuah Summer Event  bersama kawan-kawan MaLFI sebelum akan menghabiskan sebulan dalam Summer Event selanjutnya; Summer Day Camp . Sebuah pengalaman yang sangat baru dan saya bersyukur mendapat kesempatan tersebut. Setelah sekian lama hanya bolak-balik mengajar biasa, menyiapkan materi formal, lalu menemani siswa memenuhi kebutuhan akademiknya, mengisi kelas untuk English Summer Class  tentu sangat menyenangkan! Agenda ESC tentu datang setelah persiapan SDC hampir 100% rampung. Mula-mula menimbulkan dilema bagi saya, tapi tanpa pikir panjang, saya terabas semua, he he he. Sepertinya saya ini haus akan pengalaman, jadi antusias untuk menerima hal baru! 😁 English Summer Class  dimulai sejak pukul 9 sampai pukul 11. Hal itu otomatis membuat saya harus bersiap lebih pagi. Bersiap badan dan otak! Biasanya paling cepat, saya berangkat kerja pukul 10, kali ini pukul 8an! Waaaah! Kalau saya bilang: from night owl into a morning ...

Day 148 of 365

 Recap April-Mei Menjelang akhir Mei, saya baru menyadari bahwa sudah ada banyak penundaan untuk mengetik tentang kehidupan. Bulan April berlalu dengan menyenangkan. Sebuah pencapaian bahwa saya bisa melatih diri untuk terus berpikir positif dan berfokus pada masa depan. Berusaha untuk terus optimis terhadap mimpi-mimpi saya. Hal lainnya adalah saya berhasil merasakan kembali sensasi punya harapan dan impian yang begitu membuat semangat! Agak sulit dipercaya bahwa saya akhirnya bisa kembali pada trek yang seharusnya; memandang hidup sebagai sebuah kesempatan besar dan terhampar pintu-pintu yang boleh dimasuki sesuai mimpi. Bertemu dengan suasana yang benar-benar berbeda dari yang dibayangkan sebelumnya, dalam artian baik, tentu sangat melegakan dan menyenangkan. Serasa semesta ini serta merta mendukung tekad untuk menjadi pribadi yang lebih positif! Thanks God. April, bertepatan dengan bulan Ramadhan, menjadi momen ganda. Momen di mana saya akan bertambah usia—berkurang um...

Day 123 of 365

 Berkah April Menutup bulan April dengan banyak agenda membuat saya terus-menerus menunda untuk ‘laporan’ di blog ini. Hari ini akhirnya menyempatkan diri sambil menyeruput kopi pagi. Ya, hari Lebaran sudah berlalu 2 hari. April lalu merupakan bulan yang penuh kejutan dan penuh rejeki yang tak disangka-sangka. Saya merasa sangat bersyukur atas banyak hal yang terjadi pada bulan April. Bulan yang selalu menjadi bulan favorit karena merupakan bulan kelahiran, selain itu, ya, karena suka saja! Awal bulan saya mulai dengan mencekoki diri dengan energi positif dan memaksakan diri untuk melawan datangnya energi negatif. Sebuah tantangan yang terasa tidak mudah di awalnya, tapi ada sebuah tekad untuk terlepas dari lingkaran fase depresi minor yang membuat saya berkali-kali harus merasa terpuruk. Cukup! Di postingan ini saya ingin mengabadikan memori baik yang terjadi selama April! Saya sepertinya patut untuk berterima kasih dan menepuk pundak sendiri karena sudah mau untuk bangki...

Day 106 of 365

Sebuah catatan tentang alur yang pada akhirnya bisa saya kenali dan identifikasi. Keadaan stres, kalau kata seorang kawan sih 'depresi minor', yang kerap berulang secara berkala, kadang teratur, kadang juga tidak. Suka-suka aja. Saya curiga, sih, efek PMS. Tapi, tidak selalu karena PMS. Kira-kira begini:  the shadow Sebuah fase akan berulang. Tapi, kalau bisa dicegah, kenapa tidak? Fase stress yang kadang tidak jelas awal mulanya memang kerap berulang. Kadang tidak tiba-tiba, karena pasti akan muncul tanda-tandanya. Seperti mendung pekat yang muncul sebelum hujan jatuh, begitu pula beberapa gejala. Kali ini yang bisa saya deskripsikan adalah the shadow . Yah, bayangkan saja sebentuk bayangan yang menucul ketika kalian berjalan di bawah cahaya. Bayangan itu akan terus mengikuti kalian sampai sumber cahaya menghilang dan hanya ada kepekatan saja. Bayangan yang biasa datang berupa samar-samar pemikiran berlebih yang berujung pada energi negatif yang cukup untuk merundung s...

Day 99 of 365

 Positivity Challenge Terhitung sudah sepekan berjalan.  Saya menerima sebuah tantangan dari seorang kawan yang saya sebut sebagai konsultan. Konsultasn psikis, hehe. Beberapa waktu belakangan, saya banyak bercerita tentang hal-hal kelam yang saya (rasa) alami. Di luar dugaan, ternyata orang seperti dialah yang saya butuhkan.  Dengan senang hati, ia bilang akan selalu siap mendengarkan cerita saya dan akan selalu berusaha ada saat saya dirundung suasana gelap yang tidak pernah membuat saya nyaman. Pertama kali, tentu saya awas dengan keterbukannya itu. Namun, saya salah.  Kali kedua pun tiba, saya yang coba menghubunginya terlebih dahulu. Memulai pembahasan dengan basa-basi singkat, lalu langsung tembak ke inti permasalahan. Tahapannya, kalau saya ingat-ingat, sih... dia merasa khawatir karena cuitan saya nampak terlalu bermuatan energi negatif. Ia pun memberi nasihat dan menyarankan saya untuk mengkonsumsi obat penenang. Kemudian, kali kedua... saya mengadu padanya ...

Day 86 of 365

Perjalanan berdamai dengan kesepian--perjalanan berbincang dengan kesendirian Not the very best day in a week. I always have a kind of love-hate relationship with Sunday. Saya menyebutnya dengan ‘Sindrom Hari Minggu’, sementara bapak Viktor Frankl memiliki istilah sendiri yang tidak mudah saya ingat sehingga tentu lebih mudah menggunakan istilah yang saya buat sendiri. Gejalanya sama. Intinya, ini sejenis depresi yang dialami oleh orang yang terbiasa bekerja sepanjang pekan, lalu tiba-tiba tidak punya banyak ‘pekerjaan’ di hari Minggu yang membuat orang seperti saya ini merasakan kehampaan. Maka, hari Minggu bukan menjadi hari yang paling saya tunggu jika mengingat saya akan gabut setengah mati. Namun, bisa juga menjadi hari yang saya tunggu-tunggu ketika saya punya agenda seru yang akan dilakukan pada hari Minggu. Setelah lama struggling melewati hari Minggu yang membosankan dan sering membuat saya sakit kepala parah, yang berlanjut hingga keesokan harinya, akhirnya saya menemuka...

Day 79 of 365

Hari Minggu pagi, dengan segala kerumitan isi kepala dan kompleksitas perasaan... Setelah sekian lama, setelah saya pikir hal  itu sudah hilang, nyatanya masih di sana. Apa itu? Ah, sesuatu hal yang cukup menggangggu hingga saat ini. Beberapa waktu lalu saya merasa saya sudah memaafkannya, tapi lama-lama ternyata belum. Sebelum membahas itu lebih lanjut, kadang-kadang saya merasa sedang di fase kesal dengan orang dewasa. Meski sebentar lagi nyatanya saya beranjak dewasa, saya masih merasa jauh dari sana. Begini… tak sedikit saya menghadapi bahwa semakin dewasa… sebuah pasangan, alias tua… yang dalam kehidupan berumahtangga-nya semakin menyebalkan alias menggemaskan alias tidak lucu lagi pada saat harus melakukan gencatan komunikasi dengan alasan menghindari keributan. Tapi, bukannya menghindari keributan, malah yang ada adalah desas-desus di belakang, yang mana hal itu lebih menyebalkan lagi. Untuk lebih jelasnya, ini adalah yang saya amati dari kedua orangtua saya. H...