Liburan Berkelana
Liburan semester anak sekolah merupakan waktu liburan juga untuk tutor bimbel, which is me! Setiap waktu liburan sebenarnya agak bikin stres karena tiba-tiba tidak ada jadwal harian untuk bekerja, jadi untuk menyiasatinya, saya tetap pergi ke kantor satunya untuk menjaga ritme harian—syukurnya bekerja di lebih dari satu tempat.
Hal berikutnya yang saya syukuri adalah bahwa liburan kali ini tidak benar-benar libur karena di kantor ada kegiatan sehingga pada pekan pertama libur bimbel tidak menganggur. Kesibukan kadang sangat menyenangkan untuk menyibak isi pikiran yang penuh dengan hal tak penting! Sibuk-sibuk untuk mengisi pekan pertama liburan, yey!
Pada pekan kedua sudah lebih santai, atmosfir liburannya semakin terasa, diikuti dengan rasa enggan untuk kembali bekerja, tapi ritme harian harus terus diusahakan untuk menjaga kewarasan. Akhirnya, untuk tetap menyibukkan diri, mulailah diri ini menghubungi kawan-kawan yang saat kerja tak sempat ditemui.
Walau jiwa introvert ini sering tiba-tiba menyembul dan menggoyahkan niatan itu, semua perlu saya tabrak untuk menggolkan agenda meet-ups. Dan, yah, i did it!
Pertemuan itu semua one-on-one karena cukup sulit untuk menyatukan jadwal jika ingin bertemu ramai-ramai. Saya tidak menyesali satupun agenda yang sudah terlaksana. Pada akhirnya, saya bersyukur karena 'memaksakan diri' untuk pertemuan-pertemuan itu.
Sebelum liburan, kencan dengan sahabat semasa kuliah, AS, sudah direncanakan dan dapat terlaksana tanpa banyak drama. Di sebuah kedai kopi yang lumayan hype. Mula-mula percakapan dimulai canggung, namun bergulir seru oleh topik mendaki bukit, yang sama-sama kami minati—meski dia lebih banyak pengalaman dari saya yang bahkan tak sempat mencapai puncak bukit kecil yang terakhir saya kunjungi. Kami pun berencana untuk naik bukit bersama, bukit yang gagal saya daki, yang belum dia daki. Semoga waktu liburnya bisa bertepatan supaya agenda pendakian itu bisa terlaksana >_<
Pada hari kedua di pekan kedua liburan, akhirnya agenda untuk mengunjungi kawan yang sedang mengantar anaknya pengobatan pun terlaksana. Hampir sebulan dia di Lombok, dan beberapa hari lagi dia akan kembali ke Sumbawa, saya harus sempatkan supaya tidak seperti kedatangannya yang sebelumnya. I felt so grateful for the meeting. Awalnya akan berkunjung berdua dengan seorang kawan lagi, tapi mendadak dia tidak bisa ikut. Ah, sudah kedung, tabrak saja!
Keadaannya baik, tapi yang tak terlihat dia butuh banyak bantuan, terutama untuk kesehatan mentalnya. Menjadi pendamping anaknya yang merupakan seorang pejuang kanker anak (sekarang alhamdulillaah sudah dinyatakan bebas dari sel kanker, dan masih perlu diobservasi sampai 5 tahun ke depan) tentu butuh banyak dukungan dari berbagai pihak. Harus dalam keadaan siaga 24/7, survival mode-nya dipaksa aktif terus sampai-sampai tidur pun tak terhitung tidur. Bagi saya, itu darurat, tapi dia pun tak bisa melakukan yang orang-orang sarankan dengan mudah. Sederhananya, bicara memang lebih mudah daripada melakukan.
Di akhir pertemuan itu, saya hanya bisa merangkulnya dan mengatakan bahwa semua perasaan dan rasa lelahnya itu valid.
Mengapa hanya itu? Karena memang tidak perlu lagi ia diberikan saran untuk kuat dan sabar, dia sudah melakukannya dengan sangat cukup. Karena saya merasakan bahwa ketika perasaan kita divalidasi itu rasanya cukup. Orang-orang terdekat saya sering melakukan itu pada saya, rasanya nyaman, jadi, saya pun meneruskan kebaikan itu padanya. Semoga itu membuatnya sedikit lebih tenang dan tidak lagi menyalahkan dirinya atas hal-hal yang bukan tanggungjawabnya di luar dari apa yang telah mati-matian dia lakukan untuk anaknya.
Ah, yang dia lakukan pada anaknya, rasa lelah yang dia utarakan, lalu malam-malam yang dia lalui tanpa tidur nyenyak itu mengingatkan saya pada ibu saya. Jadi, sembari mendengarkan cerita-ceritanya, saya mengingat ibu saya dan dalam hati diam-diam bersedih karena ibu saya melalui masa yang kurang nyaman dalam hidupnya sendirian. Semoga ibu saya sudah menemukan kebahagiaan pada masa kini, saat anak-anaknya sudah mendewasa. Semoga kawan saya itu segera merasakan kelegaan atas kabar baik dan kemudian bisa menikmati tidur yang nyenyak pada malam-malam yang damai.
Lucu sekali anaknya yang bersemangat dengan buku mewarnai baru. Energi anak kecil memang selalu baik! Semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu menyertainya dan keluarga kecilnya.
Akhirnya pada suatu hari dalam keadaan mood yang rendah, namun sudah bilang akan berkunjung, saya pun menggerakkan diri ke rumah kawan yang berikutnya, HH. Motivasinya akan bertemu anak bayi >.<
Bayi, seperti anak kecil pada umumnya, pun membawa energi yang bagus! Tepat waktu, dia baru bangun dari tidur sorenya, dan bersiap untuk makan sore. Karena dia sudah bisa duduk, saya mulai berani untuk menggendongnya. Menggendong bayi terasa menyenangkan meskipun dia berat, he he. Selama kunjungan bermain itu, yang saya lakukan ialah lebih banyak membantu ibunya untuk menggendong sementara dia menyiapkan kebutuhan bayinya. Kebetulan saat itu suaminya sedang tidak di rumah.
Selama di sana, yang saya pikirkan adalah bagaimana seorang ibu adalah dunia bagi anaknya. Bahkan untuk mengurusi dirinya sendiri pun sang ibu hampir tidak sempat; semua soal anaknya. Tapi lain cerita kalau ayahnya sedang di rumah, ya, pasti bisa tektokan.
Kami tidak banyak bertukar cerita, tidak banyak mengobrolkan topik lain, melainkan fokus pada si bayi. Dari situ, rasanya cukup untuk menyambung keakraban kami. Mana tau di kesempatan berikutnya, si bayi sudah mulai bisa naik pushbike.
Beberapa hari berikutnya, agenda yang sudah berbulan-bulan tak terlaksana pun akhirnya bisa direalisasikan. Di tempat yang waktu itu batal kami, saya dan BD, kunjungi karena terlampau ramai, kali itu bisa kami masuki. Terlambat hampir 2 jam dari waktu janjian yang disepakati, tapi tidak jadi masalah besar.
Sembari menunggu makanan diantar, kami mulai bertukar cerita. Topiknya masih sama, tapi ceritanya memang ada saja yang baru--tetap membuat geleng-geleng kepala. Wah, kehidupan memang ada saja gebrakannya, ya! Mendengarkan ceritanya, saya malah jadi merasa tidak ada yang perlu saya ceritakan. Kehidupan yang sering kali membuat saya merasa tidak sanggup, oh, ternyata masih ada yang lebih berat lagi di kehidupan orang lain. Memang ada baiknya tidak berlebihan dalam menanggapi beban, meski kadang, ya, terasa memuakkan.
Obrolan kembali berlanjut sambil makan. Pertemuan yang jedanya cukup panjang memang akan menghadirkan cerita baru, dan itulah fungsinya, kan?! Sesekali dia bertanya tentang kehidupan saya, yang sebelumnya saya rasa seperti banyak yang bisa diceritakan, tapi nyatanya terasa membosankan karena itu-itu saja, hehe.
Pertemuan kami hari itu membawa sebuah penyadaran pada diri saya bahwa... meski berniat untuk bertukar cerita, ujungnya saya memilih menjadi pendengar karena merasa kehidupan yang saya jalani masih 'lebih mendingan'. Penyadaran tersebut kemudian diikuti oleh kebersyukuran. Benar, Tuhan tidak akan membebankan umatNya dengan sesuatu di luar kemampuan umatNya.
Ah, jadi teringat juga pada pertemuan dengan seorang sahabat semasa SMA, waktu itu awal bulan Juni. Hari itu saya merasa sangat tidak berfungsi karena beban pikiran. Mengajar tidak optimal pun tidak fokus. Saat itu saya menghubungi VM, apakah mungkin dia ingin kopi kedua untuk hari itu. Lalu kami sepakat berjumpa di Fore. Kata saya, saya sangat pusing dan ingin rehat sejenak.
Begitu kami duduk dengan kopi masing-masing, dia bertanya apa yang membuat saya begitu pusing. Lagi-lagi, persoalan yang rumit di kepala saja menjelma jadi sesuatu yang tidak begitu penting setelah ditanya. Obrolan pun berlanjut dengan topik "bagaimana kehidupan akhir-akhir ini". Mendengarkan ceritanya, lagi-lagi membuat saya merasa tak begitu penting, alias merasa hidup yang saya jalani belum 'sedewasa itu'. Aneh? Tapi begitulah.
Pertemuan kali itu lebih banyak memberi insight yang banyak mengenai kehidupan 'dewasa' yang belum saya jalani. Kembali menjadi pendengar yang baik karena saya ternyata tidak melihat potensi pada kisah saya untuk didengarkan, hahaha.
Pusing saya tidak langsung hilang saat itu, melainkan hanya berdampingan dengan cerita yang baru saya dengar. Usai sesi sharing itu, saya termenung dan menikmati lamunan sambil sesekali memperhatikan barista di belakang konter. Teman saya hendak pulang duluan karena suaminya menitip makan malam, saya minta untuk ditinggal saja karena masih ingin melamun.
30 menit berikutnya saya duduk melamun, seperti yang tadi saya tuturkan. Sesekali saya merasakan sensasi syaraf yang melentur, namun saat sadar, syarafnya kembali menegang. Semakin malam, kedai kopinya malah semakin ramai. Orang-orang yang datang bukan hanya yang hendak WFC, tapi banyak juga yang datang setelah kerja, membawa lelah di pundaknya, rehat sejenak sebelum kembali ke rumah.
#
Cerita liburan saya kali ini tidak melancong ke tempat-tempat liburan, tapi ternyata memanfaatkan waktu luang untuk berkunjung dan bertemu kawan-kawan yang tak sempat disambangi di luar libur. Rasanya seperti sebuah penyegaran yang bermakna. Mengasah kemampuan sosial dan menggebrak sisi introvert. Sesungguhnya agak membingungkan terkait cara bersosialisasi dengan benar, tapi semua mengalir begitu saja, entah baik atau kurang, hehe.
Comments
Post a Comment