Usia 30+ harusnya gimana?
Pagi ini terbangun dengan sebuah pemikiran yang tiba-tiba reflektif dan sedikit perasaan yang aneh bahwa pada usia segini, seharusnya aku tidak seperti ini...
Jadi, bagaimana seharusnya kehidupan wanita usia 30+ ini berjalan?
Kalau berkaca pada kehidupan teman-teman sebaya, 'normalnya', usia 30+ sudah mandiri secara mental, finansial, dan lain-lain. Tak mengherankan kalau ada yang sudah menyelesaikan pendidikan S2, sudah menikah, berkeluarga, dan berbisnis. Pokoknya hal-hal yang dewasa. Tapi, normal itu relatif, kan?
Tak aneh juga kalau usia 30+ masih berusaha untuk mencapai kestabilan, untuk berusaha sekuat tenaga mewujudkan mimpi, pelan-pelan menata hidup, pelan-pelan belajar menjadi manusia, pelan-pelan berjalan keluar dari gua, pelan-pelan mengerti, pelan-pelan menerima, pelan-pelan ...
Bukankah mencapai usia 30 tahun itu sendiri sudah sebuah pencapaian?
Tidak harus sudah menikah. Tidak harus sudah berkeluarga. Tidak harus sudah punya tabungan 2-digit. Tidak harus sudah punya rumah. Tidak harus sudah punya mobil. Tidak harus, kok!
Mencapai usia 30 tahun dengan keadaan mental yang lebih stabil, lalu perlahan bisa menikmati hidup, meski diselingin pisuhan, dan kemudian masih punya waktu untuk membaca buku dan bersantai, dan makan enak di saat-saat terpuruk merupakan sebuah berkah, bukan? Tentu saja!
Hari ini rasanya saya tidak menjalani hidup sebagai wanita 30+ dengan sebagaimana mestinya. Semua itu karena saya merasa tidak mencapai hal-hal yang sepatutnya dicapai oleh orang-orang sebaya. Tapi memangnya kenapa?
Ada saja hal yang memancing diri ini untuk berpikir demikian. Kadang semua pemikiran negatif itu bisa disangkal, tapi kadang juga hal tersebut sangat sulit untuk dihalau.
Pagi ini pun isi kepala berkecamuk saat sedang terduduk di meja makan. Waktu pagi yang dimaksud ialah pagi yang sudah merupakan siang bagi sebagian orang. Ah, pada titik itu saja, jika dipikirkan lagi, saya kembali merasa frustasi. Pagi saja sudah beda start dengan orang lain, masa mau mengharapkan hasil yang sama? Begitu diri ini menyiksa dirinya.
Memulai hari saja sedikit terlambat, lalu isi kepala semakin menjadi-jadi membuat tubuh gerah sendiri. Akhirnya saya putuskan untuk mandi pagi dan menyambangi kantor lebih awal dari biasanya. Yang kemudian tetap saja kesiangan 🥲 Mau kesal, tapi tak bisa disangkal; timeline orang memang beda-beda.
Jadi, sampai saya melanjutkan tulisan ini, apakah isi pikiran saya masih berkecamuk? Ya, sedikit. Masih tersisa perdebatan-perdebatan ribut dalam kepala soal ini dan itu. Ah, berisik sekali kalau mau didengarkan.
Kemudian, saya putuskan saja untuk merenungi hal-hal yang patut disyukuri instead of menggerutui hal-hal yang tak 'senormalnya' terjadi. Apa saja?
Ya, yang sudah disebutkan di atas tadi.
Ah, untuk menuliskannya ulang pun diri ini enggan.
Bolehkah sekali ini akhir tulisan ini tidak mesti 'berdamai'?
Comments
Post a Comment