Posts

Renungan Mahasiswa Semester Akhir

Sekarang sudah hampir 4 tahun saya bergelut dengan dunia yang penuh pergolakan bernama kuliah. Dunia yang pelik karena sudah mulai terkontaminasi dengan urusan bermasyarakat. Dunia yang pelik karena dihadapkan dengan perpolitikan birokrasi yang mengaduk-aduk mahasiswa sebagai bahan percobaan berbagai kebijakan. Dunia yang membingungkan karena begitu banyak pilihan terhampar namun belum bisa memilih dengan tepat. Dan perkuliahan adalah dunia yang ribet level satu. Sebelumnya saya pernah menulis bahwa saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang calon guru sejak usia SMP. Tapi apa yang terjadi adalah saya ini calon guru yangmengemban pendidikan di kampus FKIP (Fakultas KeGURUan dan Ilmu Pendidikan). Pada awal-awal semester saya tentu merasakan yang namanya sindrom salah jurusan (SSJ). SIndrom yang biasa dialami oleh mahasiswa baru yang ketika berhadapan dengan mata kuliah dan proses perkuliahan menemukan fakta bahwa ekspektasi tidak sesuai realita. Saya pun demikian. Dalam bay...

Jatuh Cinta Lagi, Tulus!

Beberapa minggu yang lalu saya menonton acara konser Tulus bertajuk Monokrom (sesuai dengan judul terbaru albumnya) di sebuah stasiun TV swasta. Saya suka Tulus sejak lagu pertamanya dipublikasikan, Sepatu . Bukan, Sewindu. Bukan, Teman Hidup. Ah, saya lupa yang mana. Yang jelas saya suka Tulus. Lirik lagunya yang puitis dan bikin meleleh karena maknanya manis, ditambah lagi dengan suara Tulus yang easy-listening banget. Tak berapa lama, lagu-lagu Tulus bermunculan. Yang terbaru ini antara lain Pamit, Ruang Sendiri, kemudian sejak acara konser itu, saya langsung cari lagu lainnya yang mengena dalam ingatan, antara lain Cahaya, Langit Abu-Abu, dan Tukar Jiwa. Masing-masing lagu, seperti manusia, memiliki kisahnya masing-masing. Dan sekali lagi –lagi-lagi, saya jatuh cinta. Seperti banyaknya hal yang bisa membuat kita jatuh cinta, banyak juga, bukan, hal yang membuat kita teringat. Salah satunya lagu. Dan tiga lagu Tulus yang baru saya gandrungi itu pun demikian. Kisah-kisahny...

Apa Itu Ideologi? –Hanya Mitos, Bisa Jadi

Sebelum mulai dibaca, saya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini mungkin agak berat bagi pembaca yang suka membaca tulisan nyeleneh, tulisan ini mungkin agak gegabah karena saya tidak mengutip komentar ataupun opini ahli, dan tulisan ini mungkin akan menyindir beberapa pihak yang tentunya tidak saya maksudkan demikian. Seperti tulisan-tulisan saya lainnya, ini hanyalah sampah pemikiran yang harus dibuang karena otak saya terasa hampir penuh oleh hal-hal seperti ini. Ideologi, seingat saya pada mata pelajara PKn dulu, adalah jalan/prinsip/landasan hidup. Lebih tepatnya saya sedang tidak ingin serius untuk tahu. Tapi ideologi ini adalah hal yang akhir-akhir ini nampaknya menjadi sesuatu yang serba-salah. Di satu sisi, saya membutuhkan ideologi untuk mempertegas diri saya dan sebagai tolak landasan cara berpikir. Kemudian, jika saya pikir-pikir lagi, bukan ideologi yang melandasi jalan pikiran saya, sebaliknya, jalan pikiran saya-lah yang menjadi asal-muasal ideologi yang saya sematka...

Pertanyaan: Kenapa menjadi guru?

Malam ini akhirnya sempat juga untuk nulis curhatan (hahaha). Setelah malam-malam lainnya tepar kecapekan karena masih dalam tahap beradaptasi dengan ritme kehidupan yang baru (ciye…). Jadi, ditemani dengan secangkir kopi manis yang sudah dingin, saya mau berbagi cerita untuk diri saya di masa depan. Sedikit melenceng dari topik, saya mau curcol tentang secangkir kopi dengan rasa terburuk yang pernah saya buat dan yang pernah saya minum. Ceritanya berawal pada suatu Kamis sore. Saya dan teman sudah janjian untuk pergi menjadi ATK ba’da Ashar. Tapi dia pergi ke dokter hewan dulu nganter kucingnya yang sakit, dan nganter ibunya ke acara keluarga. Saya agak kesal dan gimana gitu menunggu kepastiannya (yah, namanya juga cewek, suka nyari-nyari kepastian). Akhirnya kepastiannya adalah ba’da Maghrib. Untuk meredam rasa kesal, saya memutuskan untuk berobat dengan secangkir kopi yang biasanya ampuh. Tapi eh ternyata… kopi sore itu, asli, nggak enak! Biasanya saya selalu kagum dengan kopi ...

Menulis VS Mengetik

Di zaman yang sangat canggih dan modern ini, laptop atau tablet atau bahkan ponsel pintar sudah menjadi barang awam yang dibawa dan digunakan untuk membuat sekaligus menyimpan dokumen. Sebuah dokumen yang kita ketik. Jarang sudah kita lihat buku catatan dan pulpen bersanding mendampingi orang-orang. Orang tentu akan banyak memilih mengetik ketimbang menulis. Tapi jumlah yang memilih sebaliknya pun tidak bisa diremehkan. Sejak jaman saya masih anak TK ingusan, saya sudah cukup akrab dengan yang namanya mesin tik (re: mesin ketik). Dulu saya yang tinggal bersama kakek-nenek biasanya main di kantor. Di sana tentu ada mesin tik yang senantiasa menjadi mainan saya. Saya suka bunyi yang dihasilkan mesin tik ketika kita mengetik. Saya juga suka menggeser pita karbon, menggeser kertas ketika memulai paragraph baru, dan sensasi mensejajarkant jarak tiap baris. Menggunakan mesin tik di kala mengeja nama pun masih susah sangatlah menyenangkan! Sejak dini saya sudah suka mengetik.

Ink Heart

Halohai! Saya pengen cerita sedikit tentang bagaimana (mungkin benar bahwa) semesta ikut berkonspirasi dalam mewujudkan apa yang kita pikirkan. Ya, banyak dari kalian pasti pernah merasakan beberapa kebetulan yang tentu saja bukan hanya kebetulan biasa, sebagaimana tidak ada kebetulan yang memang kebetulan, kan. Misalnya… ingin masuk universitas A, lalu menuliskannya di tembok kamar yang ketika terbangun atau hendak tidur langsung terlihat. Yap! Usaha mensugesti diri seperti itu terus saja booming karena banyak yang sudah merasakan kemanjurannya. Menurut saya, itu adalah cabang dari berkonspirasi dengan semesta. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangun chemistry dengan semesta supaya bisa berkonspirasi dengannya. Umumnya orang menulis. Yap! Menulis to-to list misalnya. Lainnya, menulis susunan jadwal, rentetan mimpi yang ingin dicapai, dan sejenisnya. Saya pernah mencoba kesemua yang saya sebut tadi. Tapi berhubung saya orang yang kelewat fleksibel alias mudah berubah ...

The War Inside

Kembali lagi setelah sangat lama menghilang. Besok sudah mulai kuliah, semester 6. Tinggal beberapa langkah lagi akan lulus. Setelah lulus akan apa? Berkeliaran ke sana ke mari menyetor resume dan mengharap undangan wawancara? Lebih baik membuka usaha. Jujur saja, beberapa hari terakhir setelah perjalanan singkat padat yang menyenangkan di Bali, saya merasa tertekan. Dari luar dan dari dalam. Saya mungkin belum mencoba untuk menyembuhkan diri, tapi saya lebih butuh teman. Dan teman yang sejak dua tahun lalu mau menjadi sandaran saya terasa agak berubah lelah. Sebisa mungkin saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Saya masih mencoba untuk mulai mengkaji diri. Ternyata saya orang yang sangat buruk! Saya jadi kasihan pada diri sendiri. Saya ingin menjadi orang yang terbuka; senang di saat senang, sedih di saat sedih, marah di saat marah, simpati di saat orang berduka, dan segala macam emosi yang pada tempatnya. Kenapa terasa susah sekali? X_X