Sepucuk Surat

Duduk sendirian memandangi senja. Tiba-tiba terlintas wajahmu dalam benakku. Apa kabar kau sekarang?

Aku mengambil secarik kertas dan mulai menulis.

Pada suatu senja yang memikat, aku duduk terspesona di sebuah beranda yang menghadap ke arah lautan. Sinar matahari senja yang menyilaukan perlahan meredup seiring dengan turunnya matahari. Aku hanya duduk dan membiarkan teh dalam cangkir mendingin hingga tak nikmat lagi untuk disesap.

Aku  mengingat apa yang menyatukan kita, dulu. Ya, pada suatu senja yang memikat. Kita bertemu. Kau ingat?

Kau, dengan sebuah kamera yang menggantung di lehermu. Aku, dengan headphone yang menutupi kedua telinga. Kita tak sengaja bersisian ketika kau hendak membidik, mengabadikan senja, dan aku yang ingin mengintip senja dari sudut terbaik yang bisa ku dapat.


Aku tidak akan menceritakan semua kejadian pada senja itu karena ku harap kau mengingatnya sama baik dengan aku mengingatnya. Mungkin ingatanmu lebih baik tapi aku tak berharap lebih.

Tahukah kau? Senja yang ku lihat saat ini sama memikatnya dengan senja di saat kita bertemu. Dan aku merindukanmu begitu saja. Yah, meskipun sudah terlampau lama, namun aku masih saja bisa mengingatmu. Dan aku merindukanmu.

Apa kabar? Ku harap sekarang kau baik-baik saja dan telah mewujudkan mimpimu, menggelar pameran fotografi bertema landscape, khususnya senja. Ya, aku ingat kau pernah mengutarakan mimpimu itu padaku. Sejak saat itu aku terus berdoa agar suatu hari nanti kau bisa mewujudkannya. Kau ingat? Kau hanya tertawa ketika aku benar-benar berharap mimpimu itu menjadi nyata. Mengapa kau tertawa waktu itu? Bukankah itu mimpimu? Hmm...

Aduh, senja ini cepat sekali berlalu. Seperti ada yang memburunya....

Hei! Mungkinkah kau masih memburu senja dengan bidikan-bidikan kameramu itu? Tolong kau jangan terlalu menakuti senja yang memikat ini agar aku bisa menikmatinya lebih lama. Dan sekalian juga agar aku bisa mengenangmu lebih lama. Baiklah, dan juga merindukanmu lebih lama.

Pernahkah aku memberitahumu akan hal kecil ini: aku jatuh cinta pada kedua bola matamu, terutama saat mata itu memantulkan sinar matahari senja.

Bolehkah aku bercerita padamu tentang bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu hingga akhirnya kita bisa menjadi sepasang kekasih? Izinkan saja, ya! Aku yakin kau pasti ingin mengetahuinya. Bukankah begitu? Karena kau selalu ingin tahu akan segalanya!

Ya, kau ingat saat kau meminta maaf karena kita bertabrakan kecil saat bersisian itu? Waktu itu adalah waktu terfenomenal dalam hari-hari belakangan itu. Asal kau tahu saja, waktu itu aku sedang dalam masa penyembuhan patah hati yang begitu parah. Namun ketika tak sengaja menatap kedua mata indahmu itu, rasanya hatiku langsung pulih seperti tak pernah patah sebelumnya.

Hei, jangan tertawa! Aku tahu kau akan tertawa, karena kau memang selalu menertawakanku ketika aku mulai berimajinasi. Tapi jika memang begitu adanya, aku pun tak bisa membuatnya serasional yang kau harapkan.

Setelah senja hari itu berakhir, pada malam harinya, aku memikirkan terus kedua matamu itu. Konyol, ya? Dan sebelum aku terlelap, aku berjanji pada diriku sendirii bahwa keesokan sorenya aku akan ke pantai yang sama dan menikmati senja lagi. Yang ingin ku lakukan sesungguhnya adalah bertemu denganmu lagi. Jika aku benar-benar bertemu denganmu lagi, maka aku akan berkenalan denganmu dan memberanikan diri untuk menraktirmu secangkir kopi perkenalan.

Cukup nekat, kan? 

Keesokan sorenya, semua berjalan seperti yang ku rencakan. Betapa semesta sedang berbaik hati padaku, bukan?

Hingga beberapa hari selanjutnya kita terus bertemu dan menimati senja dan secangkir kopi. Lalu tibalah pada suatu hari, ingatkah kau? Ketika di akhir senja, kau memberiku sebuah foto siluet. Aku langsung saja mengetahui bahwa siluet dalam foto itu adalah diriku. Dan pada saat aku hendak bertanya, kau langsung menyunggingkan senyum menawanmu dan berkata, "Would you be my shilouette?"

Selanjutnya kau bisa mengingatnya sendiri, oke?

Saat ini aku terus saja bertanya-tanya tentang bagaimana keadaanmu saat ini. Baikkah? Bahagiakah? Sedihkah? Sakitkah? Merindukankukah? Ingatkah kau padaku?

Yah, akhirnya pada sore ini aku melihat sebuah senja yang memikat seperti saat pertaman kita bertemu. Mungkinkah kau bertemu dengan wanita lain pada saat ini, seperti saat kita bertemu? Tentunya aku tak bertemu siapapun, karena aku hanya sedang duduk di beranda kamar hotel yang menghadap ke arah lautan. Aku tak ingin menjadi seorang yang naif, aku berharap kau tak bertemu siapapun pada senja yang memikat ini.

Hei, bisakah suatu hari nanti kita bertemu? Sekedear menyesap secangkir kopi bersama sambil memandang senja di kejauhan. Apakah kau keberatan jika semesta kebetulan berbaik hati padaku dan mempertemukan kita lagi? Ku harap tidak.

Ah, ku rasa dengan akan semakin dekatnya senja yang memikat ini untuk berakhir aku pun akan mengakhiri surat ini. Hal terakhir yang bisa ku harapkan adalah surat ini akan sampai padamu.... Semoga saja!

Semoga kau menikmati hidupmu setelah kita berpisah hingga nanti kita bertemu lagi, ya! Aku merindukanmu dan aku sama sekali tidak bohong!

Salam,
Gadis yang jatuh cinta padamu ketika senja begitu memikat.

Comments