Secangkir Kopi Senja

Tidur siang bukan merupakan sebuah kebiasaan yang boleh dimiliki oleh mahasiswi reguler sore seperti saya. Tapi bulan ini masih libur, jadi bolehlah saya menikmati beberapa tidur siang. Sebenarnya saya tidak terlalu suka tidur siang juga, bangunnya hanya akan membuat kepala berat dan ingin marah. Seperti hari ini.

Terbangun ketika hampir senja menyentuh peraduan. Badan rasanya panas, gerah dari dalam. Sungguh tidak nyaman. Setelah sedikit mencuci muka mengembalikan kesejukan, saya langsung mengambil teko untuk memasak air. Secangkir kopi panas mungkin bisa meredakan syaraf-syaraf yang sepertinya tidak melemas walau sudah diberi istirahat.

Saya mengambil sebuah novel kumpulan cerita yang tergeletak di samping kasur, mungkin tergeser jatuh ketika saya tidur. Sambil menunggu air mendidih, saya lanjut membaca cerpen yang cukup panjang.


Tidak tenang rasanya membaca, saya mengecek air yang sebentar lagi mendidih. Saya pun menuang bubuk kopi pada dasar cangkir. Pikiran saya rasanya mendesak kacau dalam kepala. Tidur siang sebagai pelarian pun rasanya gagal. Ah, apa lagi yang bisa akan saya lakukan jika untuk pelarian saja gagal, ha ha.

Air pun akhirnya mendidih. Saya menyeduh bubuk kopi yang langsung menjadi secangkir kopi. Saya menambahkan dua sendok teh gula dan mengaduknya sambil berjalan ke ruang tamu untuk lanjut membaca lagi, barangkali bisa lebih santai.

Beberapa paragraf yang sungguh sulit saya mengerti membuat saya tak sabar menyesap kopi yang baru tadi saya seduh. Sudah tidak terlalu panas, sudah bisa diseruput. Rasanya tidak terlalu manis, tapi saya kesal karena sepertinya kurang pahit. Ah, pelarian saya selanjutnya adalah rasa pahit pada kopi. Saya ingin meleburkan rasa kesal saya pada rasa pahit yang dibawa kopi. Tapi kopi saya pada senja itu cukup manis untuk dibilang pahit. Kopi pahit, saya juga belum berani minum kopi pahit, hanya karena kesal yang menumpuk saja membuat saya ingin menenggak kopi pahit.

Saya coba lagi untuk lanjut membaca cerpen itu. Sulit sekali saya mengerti. Entah karena diksinya atau karena memang otak saya sedang tidak mau direcoki kepenatannya.

Angin kemarau yang kering dan dingin masuk begitu saja melalui pintu ruang tamu yang saya buka setengah membuat ujung jemari kaki saya jadi keunguan, kedinginan. Saya meneguk kopi – bukan menyeruputnya – tapi rasanya masih terlalu manis untuk secangkir kopi pahit. Mencoba lanjut membaca, tapi saya menyerah saja. Tidak bisa. Kenapa kita cenderung sering melakukan hal yang sebenarnya tidak kita sukai?

Sejak siang tadi saya jadi orang yang naif. Saya menunggu padahal saya tidak suka menunggu – dengan sangat. Saya tahu dan mengerti bahwa yang saya tunggu memang sedang penuh urusan sehingga mungkin akan sangat sulit untuk sekedar membaca pesan singkat yang saya kirimkan. Tapi rupanya ego saya maju ke barisan paling depan dari perasaan yang menguasai saya. Saya tidak terima diacuhkan sebegitu lamanya, sementara ketika saya sibuk maka saya akan merasa bersalah dan merasa berkewajiban untuk menyempatkan diri hanya untuk sekedar membaca dan membalas pesan singkat. Saya tidak terima diacuhkan. Sebagai orang yang naif, bisa jadi boleh jika saya merasa diperlakukan tidak adil. Sebab itulah saya kesal dan mencoba lari lewat tidur siang, berharap kekesalan akan lenyap dan tertinggal dalam mimpi. Dan gagal.

Mungkin di luar sana senja mulai memerah, tapi kopi dalam cangkir tetap saja hitam – agak terlalu encer dan manis. Angin kemarau berhembus makin kencang, ujung jemari kaki saya semakin mengungu, suhu tubuh saya belum juga turun – sepertinya saya harus mandi selepas Maghrib.

Saya tenggak lagi kopi dalam cangkir, sudah agak mendingin. Saya masih kesal, kini kopi saya mendingin. Tapi apa boleh buat, saya butuh kepahitannya, jadi saya akan menghabiskannya hingga ampas yang terteguk.

Saya tidak duduk sendirian pada senja itu. Ada ibu yang duduk dan juga mengopi di kursi sebelah. Beliau bercerita, tapi saya tak terlalu mendengarkan karena pikiran saya sedang kacau. Bagaimana bisa mendengarkan cerita kalau membaca saja susah fokus? Saya hanya memberi tanggapan seadanya, tak ingin membuatnya merasa diacuhkan. Sembari “mendengar” cerita beliau, saya bolak-balik mengecek ponsel, berharap ada pesan singkat – barang satu biji – dari dia. Sia-sia saja, sih, nihil.

Adzan Maghrib mulai berkumandang dari masjid dekat rumah. Waktu itu ibu saya masih bercerita sambil kita menjawab adzan, tapi itupun saya lupa-lupa ingat kalimat yang di-adzan-kan. Saya masih kacau, ruwet pikiran saya. Hati saya mangkel berusaha menyembunyikan kesal karena belum menemukan tempat (atau seseorang) untuk melampiaskannya.

Adzan pun selesai, ibu saya beranjak masuk untuk mengambil air wudhu. Saya masih duduk saja, mencoba lanjut membaca setelah menenggak kopi yang sudah lebih mendingin lagi. Angin kemarau yang berhembus sekarang mulai membuat kesal, saya bangkit untuk menutup pintu lalu duduk lagi. Menenggak kopi lagi, membuka bacaan saya lagi, mencoba lanjut membaca lagi. Tapi gagal.

Pikiran saya masih ruwet. Jika tidur siang sudah gagal, kopi juga sepertinya akan gagal, maka saya akan menulis. Bagi saya, menulis bisa membuat amnesia. Setelah menulis, saya bisa lupa. Ketika membaca lagi tulisan-tulisan lama, saya akan takjub karena saya tidak ingat pernah bisa menulis hal yang demikian. Begitulah, saya berharap dengan menulis sebagai pelarian terakhir dapat melegakan hati dan pikiran saya yang keduanya sedang ruwet.

Sepintas saya memikirkan kawan-kawan di sekret kampus, yang jika sedang penat menghisap sebatang rokok sembari sesekali menyeruput segelas kopi untuk bersama. Terlintas dalam pikiran saya gambaran diri yang sedang menghisap rokok untuk menghilangkan penat – tentu saja tak mungkin jadi nyata.

Sebelum mandi, saya menulis. Setidaknya saya harus “dingin” sebelum mengguyur tubuh yang panas ini.

Secangkir kopi senja. Kopi lagi, kopi lagi. Sepertinya kopi sudah menjadi bagian pelarian saya. Maag bukan lagi konsekuensi yang menakutkan jika saya sudah kesal dan memutuskan untuk menenggak kopi meski perut kosong. Terbangun pada saat hampir gelap selalu menambah kekesalan saya, bukannya jadi amnesia setelah tidur siang.

Sampai pukul tujuh saya coba menulis. Gagal. Akhirnya saya mengedit sebuah tulisan. Hingga sampai menenggak ampas kopi yang sudah dingin rasa kesal masih mendesak dalam dada.

Setelah merasa cukup, saya beranjak menuju kamar mandi. Sudah terhitung malam untuk mandi sore, tak apa, tak ada aturan yang mengikat kalau soal mandi, bukan? Mengguyur badan saja sepertinya belum cukup mendinginkan saya, maka saya memutuskan keramas juga.

Saya tak enak terlalu lama mandi karena sudah terhitung malam. Entah kenapa saya deg-degan mandi cepat, seperti benar-benar diburu waktu. Oh, saya juga takut ditegur ibu karena kelamaan mandi apalagi mandi malam.

Selesai mandi saya menyiapkan makan malam. Menyita waktu banyak untuk menyiapkan makan malam sampai-sampai saya tak nafsu makan setelah makanan jadi. Saya malah melengos akan bercumbu dengan laptop dan segelas air putih ditemani lagu-lagu yang agak melow. Pelarian lanjutan; menulis.

Saya dengan sungguh-sungguh menyesalkan bahwa saya ternyata gemar melakukan hal yang paling tidak saya sukai. Dari siang tadi sampai detik saya menulis selepas waktu Isya’ pun saya masih menunggu. Saya sepertinya juga suka menipu diri saya, pura-pura sibuk dan tak acuh padahal menunggu dan penuh kekhawatiran yang tak jelas. Saya sungguh-sungguh terbebani dengan perasaan-perasaan yang mendesak dalam dada dan pikiran-pikiran yang berebut mendominasi dalam kepala.

Mendadak semua urusan pun ikut membuat ruwet. Mulai dari tanggung jawab sebagai wartawan kampus untuk menyuguhkan berita yang masih hangat sampai hasrat ikut melancong dengan kawan-kawan lama. Di satu sisi saya ingin sekali ikut melancong, tapi tanggung jawab tidak bisa dilepas begitu saja. Tapi, tapi, dan tapi. Tapi pada dasarnya saya sedang tetap berpura-pura tidak peduli padahal saya terus menunggu.

Saya terus menulis, mengalirkan keluar apa-apa yang memenuhi kepala dan dada. Tapi rupanya kali ini menulis pun gagal sebagai pelarian terakhir saya. Saya harus menerima dan menghadapi suatu hal yang paling saya tidak suka: menunggu.

Lupakan tentang tidur siang. Lupakan tentang secangkir kopi senja. Lupakan juga menulis. Jalan pelarian mana pun tidak berhasil meloloskan saya dari rasa khawatir yang muncul karena menunggu hal yang belum pasti. Belum pasti datang tidaknya.

Akhirnya saya hanya duduk menatap layar laptop dengan lagu-lagu yang terus berulang terputar. Detik dan menit hingga jam jika saya tunggui maka mereka seperti merayap, sebaliknya, jika saya melihatnya sesekali rupanya sudah melesat saja.

Sudah hampir pukul dua belas tengah malam. Saya tahu bahwa esok hari adalah hari sibuk, tapi entah kenapa hati saya masih ingin menunggu meskipun belum pasti yang ditunggu akan tiba. Dan mata ini pun sepertinya enggan terlelap karena juga ingin menunggu. Kenapa kita cenderung sering melakukan hal yang sebenarnya tidak kita sukai?

Mari salahkan tidur siang dan secangkir kopi pada senja hari. Sebab mereka bisa jadi gara-gara saya tidak ingin tidur lekas malam ini. Sekali lagi saya mengakui bahwa saya naif. Bukan mereka penyebabnya, tapi saya yang menunggu adalah sebab utamanya. Ataukah kamu yang membuat saya menunggu adalah sebab sebenarnya?

Comments