hari-hari di 2025 edisi pengembangan diri
Mari mengenang dan merefleksi hari-hari pada 2025 karena tahun tersebut baru saja berlalu. Supaya tidak campur aduk, tulisan kali ini edisi pengembangan diri yang akan berfokus pada bagaimana saya merefleksi diri.
Awal tahun lalu rasanya masih cukup labil, masih merasa perlu banyak dukungan dari teman-teman supaya bisa lebih stabil dan berdiri sendiri. Seiring waktu, dengan dikelilingi orang-orang baik dan luar biasa open-minded, saya pun mulai merasa nyaman untuk menjadi diri sendiri, mulai berani semakin membuka diri dan mengutarakan pendapat. Lambat laun, semua menjadi terasa lebih mudah dan nyaman, tak perlu lagi terlalu sering berpura-pura untuk menjadi yang terlihat baik di mata orang. Pada akhirnya, yang tak suka akan terus mencari kekurangan kita, kan?
Belajar menjadi guru BIPA, mengajar bahasa tapi terbalik; biasanya mengajar Bahasa Inggris, kali ini mengajar Bahasa Indonesia untuk pemelajar asing. Dari situ, belajar untuk bisa berinteraksi dengan murid yang 'baru', lalu membuka diri pada kegiatan ekskursi yang melibatkan pihak ke-tiga, selain itu, belajar untuk berdiskusi dengan partner terkait pembelajaran dan materi serta perkembangan muridnya.
Tak hanya itu, kedekatan yang terjalin dengan mbak-mbak di kantor pun banyak berkontribusi pada pengembangan diri ini--tentu ke arah yang positif, ya. Dengan pemikiran yang seragam namun juga beragam, saya banyak belajar. Belajar kalau ternyata masih banyak hal yang tidak saya ketahui, banyak hal yang masih terlalu dangkal saya dengar, dan tidak mengapa kalau kita punya pendapat yang berbeda karena diskusi dan berbincang itu bukan untuk cari siapa yang paling benar. Ah, belajar bersosialisasi.
Seringnya terlibat dan melibatkan diri pada acara-acara kebersamaan kantor membuat saya merasa 'punya tempat' di antara orang-orang hebat di kantor. Selain itu, diri ini banyak belajar cara menyikapi berbagai kepribadian, ya, dari mbak-mbak. Belajar berkomunikasi dengan orang lain, secara profesional, pun belajar dari bagaimana feedback ke orangtua siswa.
Sebagai pengajar, saya belajar bahwa anak-anak perlu dipahami, diberi ruang dan kesempatan untuk mengekspresikan diri sebelum di-input dengan materi pelajaran atau sejenisnya. Sebagai pengajar, saya harus mau menerima perubahan karakter generasi dan harus mau belajar untuk mengikuti perkembangan zaman. Sebagai pengajar, harus bisa merundukkan ego dan membuat pembelajaran yang lebih memprioritaskan murid daripada target yang dirancang oleh guru.
Sebagai diri sendiri, meski masih kadang lupa kontrol diri, saya harus mengapresiasi diri atas perubahan positif yang terjadi. Kini, menghadapi perubahan rencana yang tiba-tiba bisa lebih chill, lebih berkepala dingin dan berfokus pada apa yang kemudian bisa dilakukan, ketimbang misuh-misuh dalam waktu yang lama. Kini, saya jadi makin terlatih untuk membaca karakter dan situasi untuk kemudian menyiapkan rencana-rencana cadangan--salah satu trik supaya diri ini tidak ngereog.
Rasa kesal sesekali hadir, namun hal itu cukup diekspresikan, lalu ditangani dengan melakukan atau menikmati makanan atau minuman yang bisa membuat rasa kesal itu luntur. Kalau pun sedih atau marah, kini saya belajar untuk mengatakannya, alih-alih hanya berusaha menutupinya dan bersikap seolah semua baik-baik saja. Dengan melakukan hal itu, saya merasa lebih enteng dalam menyikapi perasaan-perasaan tersebut. Oh, tentu tak bisa dilupakan peran mbak-mbak di kantor dan kantor itu sendiri. Selain makan atau minum, bertemu dan bercerita dengan mbak-mbak di kantor menjadi salah satu hal yang bisa menenangkan diri ini. Menjernihkan pikiran.
Ambisi yang masih hidup sampai sekarang adalah ingin tinggal terpisah dari orangtua, entah bagaimana akan terwujud selain dengan pernikahan. Saya masih sering bertanya-tanya tentang apa jadinya diri ini kalau tinggal sendiri, mengurus diri, menuliskan daftar kegiatan yang perlu dilakukan sehari-hari tanpa intervensi orang lain maupun agenda orang lain. Dalam benak saya, semua akan jadi lebih mudah dan terorganisir, tapi entahlah. Saat ini, saya masih berusaha berkompromi dengan energi, kegiatan, jadwal, dan agenda orang rumah untuk melakukan hal-hal pribadi. Masih tidak mengherankan kalau saya lebih nyaman menyibukkan diri dengan bekerja maupun hanya menghabiskan atau mengisi waktu dengan berdiam di kantor bersama mbak-mbak. Semoga Tuhan memudahkan segala yang kusut dalam kepala ini.
Rasanya, sebagai anggota keluarga, anak sulung di rumah, saya tidak banyak merasakan perubahan yang signifikan pada diri. Semua masih berjalan sebagaimana biasanya saja, kecuali sudah datangnya seorang pria yang hendak meminang. Masih bersikap sedingin es batu di kutub pada bapak. Kadang sabar dan stabil, kadang juga bersikap keras dan tegas pada ibu. Sering menyebalkan dan iseng, sering ngajak ribut, sering bersitegang dengan adik, namun kini rasanya makin harus bisa memayungi adik, terutama psikisnya. Nobody's perfect, but I'm trying to be a good sister because I know how it felt to be alone.
Sebagai pasangan, mungkin sekarang saya sudah bisa lebih dewasa dan bijak, ya. Sudah tidak sesering dulu tantrum atau ngambeknya, sudah tidak sesering dulu merengek tidak jelas. Sekarang, rasanya sudah lebih toleran dan santai dalam menyikapi kabar harian yang kadang hanya sekali-dua kali chat. Mungkin sudah lebih banyak bersabar dan belajar bagaimana menyikapi, jadi pertengkaran kecil maupun kesalahpahaman bisa dihindari dan tidak diributkan. Secara pribadi, saya merasa lebih nyaman dan tenang dengan keadaan saya yang sekarang. Prosesnya tidak mudah, tapi ternyata saya bisa sampai di titik ketenangan ini. Semoga makin baik lagi ke depannya.
Sebagai diri sendiri, yang saya rasakan... lebih banyak dalam mode letting go daripada menyesalkan sesuatu yang sudah terjadi.
Terhadap orang lain, dalam kehidupan bersosial, mungkin hal ini bisa dianggap sebagai degradasi atau kalau dari sisi kesehatan mental malah bagus. Saya sekarang benar-benar sudah memutuskan untuk bersikap tertentu terhadap orang atau kelompok tertentu. Kepada yang baik bagi kesehatan mental saya, saya bisa terus berinteraksi dengan mereka. Sebaliknya, kepada yang memicu stresor ataupun trauma, saya memilih untuk menghindarinya, terlepas dari opini orang terhadap saya, saya memilih untuk egois dan mementingkan kewarasan diri. Sering kali orang lain tak mengerti karena tidak (mencoba) melihat dari sudut pandang kita, meski sudah coba kita jelaskan, kalau mereka memang tak mau membuka pikiran, percuma juga, mereka tak akan (mencoba) paham. Dalam hal ini, di kalangan keluarga besar dari bapak, mungkin saya tampak sebagai pembelot yang sangat keras kepala, he he he.
Sebagai teman, mungkin saya bukan yang paling peduli dan act-of-service person, tapi sebisanya saya tetap menghubungi teman-teman sesekali, menanggapi postingan mereka, dan saling berbalas chat. Yah, semoga saya cukup baik, ya.
Sebagai manusia, masih banyak PR yang harus saya selesaikan. Masih banyak sekali kurangnya.
Dan... untuk melanjutkan hidup yang seperti roller coaster ini, harusnya saya bisa sedikit lebih ambisius untuk menambah pengalaman kerja, mengasah keterampilan, dan membangun jaringan koneksi baru untuk masa depan yang lebih sejahtera. Tapi dasar banyak alasan, urusan mental selalu jadi tameng paling utama, ck-ck-ck.
Pesan untuk diri sendiri:
... terima kasih sudah terus berjalan dan berjuang dalam apapun yang kamu ceritakan maupun tidak. Terima kasih sudah belajar untuk meregulasi emosi dan stresmu, terima kasih sudah belajar untuk mengatur emosi yang tidak karuan, terima kasih sudah mau mencoba untuk membaur dengan orang-orang yang membuatmu nyaman. Terima kasih sudah terus mnejadi support system untuk diri sendiri dan belajar untuk menerima diri. Maaf kalau masih sering pasrah saat ada kunjungan dari si anxiety dan trauma. Semangat mewujudkan hal-hal yang selalu kamu doakan, kalau lelah, rehatlah.
Comments
Post a Comment